Masyarakat Tanpa Notasi; Sebuah Catatan Musik dari Tanah Runcuk*

Pada masa silam musik seringkali diletakkan pada bagian ritual. Tidak terkecuali seperti yang terjadi pada masyarakat yang hidup di Tanah Runcuk. Bahkan lebih dari itu, masyarakat Tanah Runcuk menempatkan musik seiring dengan gerak alam lingkungan mereka tinggal. Melalui catatan Stern Jr. ditemukan beberapa bukti dan penjelasan bagaimana masyarakat Tanah Runjuk menghadirkan dan menempatkan musik dalam kehidupan kesehariannya.

“…Pertama kali aku menginjakkan kaki ke Tanah ini, ada musik yang mengalun seiring hembusan angin, yang membuat dedaunan pepohonan yang berjajar di Tanah Runcuk berbisik. Aku melihat para perempuan di Tanah Runcuk berdiri berpencar di sela-sela pepohonan, mereka semua saling berbisik. Setiap kata yang dibisikkan oleh para perempuan tersebut berbeda satu dengan yang lain. Ada yang diucapkannya perlahan dan terpotong-potong, ada yang diucapkannya secara cepat dan tak berkesudahan.”[i]

“Bisikkan ini mengalun dari mulut perempuan Tanah Runcuk. Aku menatap terpaku kepada langit, dan sesekali menoleh kepada Wallach, dia menitikkan air mata yang turun pada separuh pipi dan ujung air matanya terangkat ke udara seperti diterbangkan angin. Tak sedikitpun ujung titik air matanya diizinkannya menyentuh ujung bibir Wallach.”

“Malam hari setelah peristiwa tersebut, aku berbincang dengan Wallach. Dia berkata, ‘Kau tahu, bisikan tadi siang itu, bisikan itu telah membuatku menangis, aku teringat kepada ibuku, aku merindukannya’, ujar Wallach. Aku tak mengerti apa yang terjadi, tapi perasaan yang dialami oleh Wallach terjadi juga pada diriku. Aku merasa menajdi kanak-kanak lagi, di malam yang dingin, aku merindukannya, aku ingin pulang pada pelukanya.”[ii]

Tubuh yang Musikal

Penelusuran tim peneliti terhadap dokumen yang dicatat oleh Stern Jr. selalu gagal untuk menemukan bukti yang sahih terkait kegiatan bermusik masyarakat Tanah Runcuk. Melalui surat, sketsa, dan catatan lainnya tidak ditemukan perkakas musik yang khas, atau susunan nada tertentu yang dikerjakan oleh masyarakat Tanah Runcuk. Tidak ada kulit hewan atau pun benda-benda yang dikhususkan dalam kegiatan bermusik di Tanah Runcuk.

Namun, bukti dari kegiatan bermusik tanah Runcuk ini hadir pada beberapa lembar tulisan semacam catatan harian yang lebih mirip puisi yang ditulis oleh Stern. Tidak berbeda dengan Wallach, ditemukan beberapa puisi yang tidak pernah dimunculkan ke publik, semacam catatan yang ia tulis secara pribadi. Hal ini membuat kebingungan di antara tim peneliti yang pada mulanya memperdebatkan tentang kebenaran keberadaan kegiatan bermusik dari masyarakat Tanah Runcuk.

Dugaan pertama yang kuat muncul dari bait puisi yang ditulis oleh Wallach berikut;

Lalu pada pagi yang dingin

Matahari menyeruak dari sela-sela pegunungan tak berkesudah

Menembus dadaku

Cahayanya terpancar di ufuk timur

Lalu pada pagi yang dingin

Tumbuhlah ingin dari segala ingin

Ibu dari segala ibu

Saling membisikkan kata cinta

Menjadi lagu yang lembut

Membaluri luka-luka dalam ingatanku

Seperti rambut para lelaki yang berdenting tertiup angin

Seperti kesedihanku

Turut serta

Terbang[iii]

Puisi tersebut hanya meberikan sedikit penjelasan bagaimana kronologis yang terjadi pada peristiwa yang telah dipaparkan di atas. Tentang para perempuan yang berbisik. Tidak pernah diketahui secara jelas motif dari kegiatan bermusik dari masyarakat Tanah Runcuk terkait peremuan yang berbisik. Apakah hal tersebut terkait dengan penyambutan orang asing atau tamu, ataukah terkait dengan upacara atas hal lain yang kebetulan bertepatan dengan kedatangan Stern dan Wallach pada saat itu.

Berkaitan dengan ‘rambut yang berdenting ditiup angin’ para peneliti melakukan penelitian lebih mendalam kepada teks-teks puisi yang ditulis oleh Stern dan Wallach. Dalam puisinya yang berikut terlihat bagaimana ia mendeskripsikan hal tersebut.

Aku melihat para lelaki menumbuhkan rambut mereka sepanjang punggung

Mereka membiarkannya tergerai

Disapu angin

Diterpa mentari

Digerujug air terjun

Dihempas debu dan dedaunan kering

Aku melihat malam yang kelam dalam lekuk liuk rambut para lelaki itu

Mereka memupuk dosa dan luka dari dalam kepala

Lalu pada pagi yang baru

Mereka membuat lingkaran yang tak terputus

Setiap orang saling mengusap rambut

Membersihkan dosa dan luka mereka

Mereka mengusap rambut dari batang alang-alang yang panjang

Dan ketika dosa dan luka mereka berguguran ke tanah

Muncul bunyi yang sangat menyayat hati

Ketika alang-alang menyentuh rambut mereka

Mengalun kesedihan yang sangat dalam

Aku melihat mereka berkumpul

rambut mereka berkilau

Seperti air mataku

Yang jatuh di hatimu[iv]

Catatan keduanya terkait dengan rambut para lelaki yang diduga menjadi salah satu instrumen musik masyarakat Tanah Runcuk menuai tafsir yang ambigu. Pada puisi Stern tercatat rambut mereka berdenting, sedang pada catatan Wallach terlihat bagaimana rambut tersebut diperlakukan sebagaimana alat musik gesek seperti biola pada saat ini, batang alang-alang sebagai bow-nya.[v]

Kedua catatan ini tidak membuat penelusuran peneliti terhenti pada perdebatan bagaimana rambut mereka diperlakukan sebagai alat musik saja. Lebih dari itu, hal ini memunculkan keingin tahuan bagaimana struktur rambut yang oleh masyarakat Tanah Runcuk. Apakah ketebalan rambut yang mereka miliki setara dengan senar biola atau gitar sehingga mereka mampu menghasilkan bunyi yang seperti itu.  Seperti yang tercatat pada puisi yang ditulis oleh Wallach, kaum lelaki Tanah Runcuk memiliki kecenderungan untuk merawat rambut mereka. Mereka memanjangkan rambutnya hingga sampai pada lutut, bahkan samnpai ada yang menyentguh tanah.

Dalam foto-foto yang dihadirkan oleh Wallach dan Stern, mereka tidak menunjukkan rambut mereka yang panjang, tetapi menggulungnya dengan ikat kepala sehingga rambut mereka yang panjang menjadi tersembunyikan. Perilaku memelihara rambut ini lekas terkikis oleh kependudukan kolonial yang secara serta-merta memangkas rambut para lelaki tersebut dengan tujuan untuk dijadikan perhiasan atau rambut palsu bagi para putri kerajaan. Hal ini menandakan betapa bagusnya kualitas rambut yang dimiliki oleh masyarakat Tanah Runcuk.

Musik adalah ekspresi seni yang berpangkal pada tubuh. Musik terdiri atas suatu peredaran dan atau arus balik dari membunyikan, mendengarkan, dan membunyikan kembali. Membuat musik sama artinya dengan berdialog dengan tubuh.[vi] Musik yang hadir dari Tanah Runcuk tentu tidak dapat serta-merta dimaknai lahir dan hadir secara ajaib begitu adanya. Mereka tidak hadir dari hampa udara, beberapa kejadian yang mampu menunjukkan kelahiran musik di sana adalah bagaimana mereka kemudian sangat menyatu dengan alam. Terlihat hubungan yang sangat kuat antara musik dan tubuh. Mereka menggunakan tubuh sebagai saluran bermusik mereka, dan mengambil sumber penciptaan yang didasarkan kepada suara-suara yang dihadirkan oleh alam atau lingkungan sekitarnya. Untuk lebih jauh memahami hal ini kita perlu lebih dahulu menilik konsepsi soundscape dan membaca soundscape yang terdapat di dalam lingkungan tempat bermukimnya Tanah Runcuk.

Soundscape Tanah Runcuk

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Runcuk, Wallach tidak saja menuliskan apa-apa yang dilihatnya, akan tetapi dia juga menuliskan apa-apa saja yang didengarnya. Dalam catatanya tersebut Wallach menyebutkan bahwa burung-burung berkicau dengan sangat riang, terdengar suara hewan-hewan yang biasa berderik di dalamnya inti hutan di kebanyakan wilayah Hindia Belanda. Suara telapak kaki terdengar begitu jelas, suara helaan nafas terdengar jelas, bergantian menghembus dengan angin yang turun dari pegunungan, dedaunan seperti saling berbisik membicarakan kedatangan dirinya dan Stern, dan mereka pun menyebarkan kabar tersebut kepada alang-alang. Semuanya seperti membicarakannya.

Pemandangan yang digambarkan melalui suara inilah yang kemudian pada abad ini disebut sebagai soundscape.[vii] Seluruh suara itu sebagai objek visual dan berada di angkasa yang dapat didengar dari mana-mana. Ini berarti bahwa suara-suara atau bumyi-bunyi tersebut membuat suara lingkungan di suatu ruang; seperti pohon, gedung, dan lain-lain yang diletakkan di ruangan kota atau desa (Nakagawa; h.105).

Pada bagian sebelumnya telah dipaparkan bagaimana kegiatan musik di Tanah Runcuk berhubungan begitu kuat dengan tubuh. Tubuh dalam hal ini bukan saja badan secara fisik saja, akan tetapi juga mental. Tubuh kita ini berhubungan langsung dengan dunia atau lingkungan. Kita bisa menganggap bahwa dunia ini merupakan bagian dari tubuh kita. Ini berarti bahwa tubuh itu bukan hanya tubuh yang dapat kita lihat saja, akan tetapi mempunyai pengertian yang lebih luas (Nakagawa; h. 41).

Kondisi geografis yang menyusun Tanah Runcuk tentu memiliki peranan besar dalam mempengaruhi musik-musik yang kemudian hadir dalam masyarakat tersebut. Instrumen musik yang pada dewasa ini dianggap sebagai perpanjangan tubuh manusia sangat sedikit sekali ditemukan di Tanah Runcuk. Hal ini menandakan bahwa mereka mengerjakan musik dengan cara yang paling alami, dengan menggunakan tubuh dan apa yang terdapat di dalam lingkungan mereka. Meskipun di atas telah tercatat bagaimana alang-alang merupakan instrumen yang digunakan oleh mereka akan tetapi terjadi sebuah perbedaan dalam cara memperlakukan instrumen tersebut. Instrumen tersebut digunakan sebagai nilai fungsinya sebagai pembersih rambut dan mereka tidak pernah menyimpannya. Hal inilah yang kemudian rawan mengelabui para peneliti pada awalnya.

Dari gambaran di atas kita akan menduga bahwa unsur musik mereka sanagt terbatas hanya pada instrumen dawai, dengan rambut sebagai dawainya. Namun, catatan Wallach menunjukkan bukti lain. Bagaimana instrumen perkusifpun hadir dalam musik yang lahir dari Tanah Runcuk. Sebagaimana diketahui di daratan Tanah Runcuk terdapat gunung berapi, dan jika gunung berapi tersebut bergejolak, mereka langsung menyesuaikan diri, dan menempatkan bukti gemuruh yang dihasilkan oleh gunung berapi tersebut sebagi instrumen perkusi. Bukti dari hal tersebut dapat disimak melaui puisi dari Wallach berikut ini.

Apakah yang tengah kau hadapi, Karas dendam?

Dalam dadamu berdegub kencang

Semua lelaki dan perempuan merebahkan diri pada tanah

Seperti semua gelisah dan lelahku

Terebah dan menjadi lagu

Doa-doa yang disiulkan dari seluruh manusia

Dan satu yang berdiri itu memanggil jauh dengan suaranya yang lantang

Mencoba menggapai matahari

Apakah yang tengah kau hadapi

Duhai Karasdendam

Kudengar degubmu di degubku

Dalam dadaku

Aku ingin menjadi kanak-kanak lagi

O, ibuku

Peluklah diriku[viii]

Dalam hal ini Stern menuliskan dengan jelas dan gamblang.

Saat sore datang, Karasdendam bergejolak. Mucul dentuman-dentuman dari dasar perutnya. Adalah hal yang terduga, jika hal ini akan kualami. Perempuan dan lelaki tanah runcuk merebahkan dirinya kepada tanah, bersiul dengan suara yang sanagt merdu. Mereka mengalun beriringan dengan dentuman dari Karasdendam. Seorang lelaki memangil matahari agar jangan dulu tenggelam. Entah bagaimana caranya semua peristiwa ini menjadi seperti semacam lagu yang tersusun dari dentuman gunung, siulan orang-orang dan teriakan penuh harap. Hal ini sangat menakjubkan. Seperti doa yang dirapalkan bersama, dari orang yang merasa terancam, namun menggunakan unsur dari hal yang diduga akan mengancamnya. Ini sangat menakjubkan.[ix]

Bukti lain yang dapat dibaca terkait kegiatan bermusik mereka sekaligus menunjukkan kekuatan mereka menyatu dengan alam, serta menunjukkan soundscape yang ada pada masyarakat Tanah Runcuk adalah tulisan dari Wallach berikut.

Aku seringkali kesepian

Aku selalu sendirian

Tapi aku tak pernah berada di tempat sesunyi ini

Aku dengar malam mengendap-endap masuk ke dalam kamarku

Apa yang kutinggali kini adalah hamparan senyap

Padang kesunyian yang sangat

Di malam yang lalu

Aku mendengar nafasku

Nafas ibu menidurkan anaknya

Nafas bocah-bocah yang terlelap dalam pelukan ibunya

Nafas yang menderu dari seorang ayah

Nafas seekor burung

Nafas sebatang pohon

Menjadi suara-suara dalam kepalaku

Yang membuat tertidur dengan sangat lelap

Tapi kini,

Aku tidak mendegar suara apapun

Aku hanya mendengar kesenyapan

Meski aku seringkali kesepian

Meski aku selalu sendirian

Tapi tidak malam ini

Aku tidak mendengar apapun

Kecuali suara tangis yang sangat panjang

Suara tangis yang muncul dari jauh

Jauh sekali

Kucari di sekelilingku

Tak ada

Kucari di dalamnya hutan

Tak ada

Tetap kudengar

Suara tangis yang jauh

Suara tangis yang dalam

Dalam sekali

Dari dalam

Dasar

hatiku[x]

            Hal ini menujukkan bagaimana suasana malam di tanah Runcuk dapat sebegitu senyap sehingga suara nafas bisa terdengar. Suara-suara yang dihasilkan oleh suasana yang terdapat di Tanah Runcuk tentu tidak bisa dikatakan sebgai musik yang dapat ditularkan karena pencatatannya pun dengan model yang demikian. Namun, hal ini dapat kita pahami sebagi penularan musik lisan, sebagaimana yang terjadi pada penularan dongeng. Kajian tentang dongen tentu sudah banyak dilakukan, hal ini yang kemudian memaksa kami untuk memaksakan diri melakukan penelitian musik lisan ini pada sebuah masyarakat tanpa notasi.

Masyarakat Tanpa Notasi

Musik yang hadir dalam masyarakat Tanah Runcuk sulit sekali ditiru sebagaimana ia hadir dan dimainkan pada masa itu. Tapi hal ini bukan merupakan hal yang mustahil untuk melihatnya dengan cara yang berbeda dan melahirkan sebuah bentuk musik yang berangkat dari sana.

Unsur-unsur seperti alat musik yang sangat bergantung dengan tubuh dan alam tentu bisa menjadi sederhana untuk diadaptasi dan dimainkan. Sayangnya, keduanya baik Stern maupun Wallach tidak pernah bisa menggambarkan nada yang tercipta, atau bagaimana alunannya. Mereka menggambarkannya dengan menerjemahkan langsung pada perasaan yangmereka alami setelah mendengar musik tersebut.

Hal ini tentu membuat kesulitan dalam menerjemahkannya pada bentuk musik yang pasti. Pada masyarakat Barat, pencatatan dan notasi musik menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Mereka memainkan musik dengan membaca notasi yang telah dituliskan. Tubuh bergerak dengan menuruti apa yang telah dituliskan, dalam hal ini tubuh dibatasi untuk memainkan musik hanya sesuai apa yang dituliskan saja, tidak boleh keluar dari apa yang dituliskan.

Pada tipikal masyarakat yang menggunakan penularan musik atau melakukan kegiatan bermusik yang tanpa notasi, musik dimainkan dengan menggunakan seluruh kemampuan tubuh. Tidak ada aturan atau batasan yang dituliskan, keterbatasan yang mereka miliki terletak pada keterbatasan tubuh manusia dalam kaitannya diperlakukan sebagi instrumen dasar musik.

Namun, hal ini pun dapat menjadi hal yang baik, karena tubuh bekerja secara optimal dan maksimal dalam melakukan perannya sebagi instrumen musik. Tidak ada lagu pasti yang sama yang dimainkan pada waktu tertentu saat santai. Semua musik yang hadir dalam masyarakat Tanah Runcuk bersifat insindental. Mereka merespon dengan luwesnya kejadian dan fenomena alam. Uraian di atas tentunya memberi kita gambaran bagaiman tubuh dapat digunakan semaksimal mungkin sesuai kebutuhan kita. Bagaimana bisakan bisa menyusun harmoni, bagaimana rambut dapat dibunyikan, bagaimana siulan dapat mencapai frekuensi yang sama dengan suara dentuman gunung, dan bagaimana mereka dapat menyusun tempo sehingga suara mereka dan suara alam dapat mengalun bersama.

Uraian panjang di atas mencoba menunjukkan bagaimana keterkaitan musik dan kosmos, sedangkan manusia berada pada tengah-tengahnya. Konsepsi tiga kesatuan ini tentunya telah banyak ditemukan dalam analisis pertunjukkan dan kesenian tradisional. Bagaimana simbol dualitas antara siang-malam, langit-bumi, laut-gunung, dan lain sebagianya. Pada kondisi ini manusia selalu berada pada tengah-tengah hal tersebut.

***

Endnotes:

(*) Tulisan ini mulanya berjudul ‘Catatan Musik dari Runcuk’ dimuat dalam Jurnal Malalongke. Pertama kali dibuat untuk berpartisipasi dalam sebuah Pameran Seni (Rupa) Lintas Displin. Pameran tersebut kemudian disebut sebagai “Pameran Etnografi dan Peluncuran Jurnal. Center for Tanah Runcuk Studies. MEMOAR TANAH RUNCUK: Catatan dari Tanah yang “Hilang”. Pameran Tunggal – Timoteus Anggawan Kusno.

[i] Dikutip langsung dari catatan pribadi Ludwig Stern Jr yang. Dokumentasi tim CTRS.

[ii] Ibid 1

[iii] Puisi yang ditemukan di antara catatan perjalanan Wallach. Di dalam buku tersebut hanya terdapat sepuluh puisi yang ditulis oleh Wallach, tujuh di antaranya merupakan puisi yang berkaitan dengan masyarakat Tanah Runcuk, selebihnya merupakan puisi yang menggambarkan kesedihan dan patah hati Wallach kepada seorang perempuan. Wallach seperti tidak sengaja dan tidak sadar telah meninggalkan beberapa puisi dalam catatannya dan ia tidak bermaksud untuk menyebarkannya.

[iv] Ibid3

[v] Bow merupakan alat gesek untuk memainkan biola. Biasanya terbuat dari bulu rambut kuda.

[vi] Dikutip dari Musik dan Kosmos, Sebuah Pengantar Etnomusikologi, Prof. Shin Nakagawa, Yayasan Obor Indonesia; 2000.

[vii] Murray Schaffer, komponis asal Kanada mengawali istilah dan penelitian terkait dengan soundscape. Istilah ini berangkat dari dua kata yaitu sound dan  scape. Sound berarti bunyi dan scape merupakan sebutan singkat dari landscape yang berarti pemandangan. Pemandangan bunyi ini awalya dikerjakan karena Schaffer mengalami gangguan dari suara-suara yang tidak menyenangkan di sekitar lingkungannya. Proyek penelitian ini dimaksudkan untuk mencapai suasana bunyi yang lebih baik dan menghindarkan kita dari polusi bunyi. Hal ini juga sangat berguna untuk melatih kemampuan mendengarkan kita.

[viii] Opcit3

[ix]Opcit1

[x] Opcit8

Referensi terkait:

Plato, The Republic

Leeuw, Ton De, Music of the Twentieth Century, A study of Its Elements and Structure, Amsterdam University Press; 2005.

Jones, George Thaddeus, Music Theory, Barnes and Noble Books; 1974.

1 thought on “Masyarakat Tanpa Notasi; Sebuah Catatan Musik dari Tanah Runcuk*”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s