Ada Lagu yang Mengalun Perlahan dari Selembar Fotomu

Hari-hari setelah pertemuan yang romantis itu aku menjadi sulit untuk tidur di malam hari. Aku terus-menerus memikirkan lagu yang harus kukerjakan. Siang itu aku bertemu dengan kedua temanku yang sudah cukup lama tak berjumpa. Kami membicarakan indahnya masa-masa kuliah, kenangan-kenangan yang konyol dan lucu di kampus dan sebagainya. Adalah Timo, yang kemudian mengajakku untuk turut tergabung dengan rangkaian project yang tengah dirintisnya. Sebuah project yang terkait dengan kota dan manusia. Sebuah project gerakan yang melibatkan beragam unsur seni. Aku kebagian untuk menulis lagu terkait dengan isu tersebut.

Berhari-hari, aku selalu menyempatkan diri untuk memeluk gitarku, meraih kertas dan pulpen, menggapai-gapai kata dan nada, yang selalu luput. Hingga kemudian aku sadar. Jika aku ingin berbicara tentang kota, tapi aku terus menerus berkutat dalam pikiranku dan ruang kamar indekos, maka aku tidak sedang menelusuri kota yang sedang ingin aku bicarakan. Tapi aku malah justru tersesat dalam bangunan kota yang hanya ada dalam anganku semata.

Lantas aku memutuskan untuk beranjak pergi. Meletakkan kertas dan pulpen, menaruh dengan seksama gitar dan pikiran njelimetku. Kukendarai sepeda motor mengelilingi kota Sleman dan Yogyakarta. Memperlakukan kedua mataku sebagai anugerah terbesar dari Tuhan. Aku mencoba menagkap gambar-gambar yang berserakan di sepanjang jalan raya, kampung kecil, pusat perbelanjaan, dan dimana-mana di kota itu. Aku langkahkan juga kakiku untuk mencumbui trotoar dan tanah gersang. Kukorbankan hidung dan paru-paruku menghisapi asap kendaraan dan bau sinar matahari yang terpeluk aspal, menghempas debu, dan mengirim sinyal kepada otakku bahwa ini adalah aroma kota.

Semua pandangan yang aku tangkap melalui mataku menjadi rangkaian potret dalam ingatanku. Beberapa tempat yang memiliki kenangan khusus bagi diriku secara personal membawa ingatanku menjelajahi ingatan-ingatan yang lain. Kadang-kadang, karena terbawa pengaruh film yang pernah kutonton, aku seringkali mendengar atau mendendangkan rangkaian nada-nada yang menjadi ambience ketika kuberjalan. Ketika wajahku disapu angin, pohon-pohon berdesir, bunyi langkah-langkah kaki terseret, lalu seperti ada sebuah lagu  yang mengalun mengiringi adegan dan peristiwa yang sedang aku jalani. Kebisingan yang muncul dari knalpot motor, mobil yang lalu lalang, teriakan orang, deru mesin, satu persatu mulai menata temponya; menyusun komposisinya sendiri yang entah. Mungkin ini yang disebut soundscape. Tapi aku tak sejenius itu, menuliskan lagu dengan sedemikian rumitnya eksperimentasi pada proses pembikinanannya.

Dua minggu lagi, aku harus presentasi lagu dan lirikku untuk kemudian bisa aku mainkan di studio, lalu direkam, dan dimainkan secara langsung. O, betapa cepatnya waktu berjalan. Dua minggu lagi dan belum satupun kata kudapat.

Aku kemudian menghentikan kegiatan berjalan-jalan dan mulai mengurung diri lagi di kamar. Gitar mulai kupetik, progresi akord yang biasa saja, senandung kecil dari mulut. Ada yang lahir dari penjelajahan terhadap kota ini, penjelajahan dari satu ingatan ke ingatan yang lain. Sebongkah kalimat, “Pohon-pohon lupa di mana ia dilahirkan” mengantarkanku pada lagu yang kemudian kuberi judul “Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi”. Aku tidak pernah benar-benar menyusun lagu itu, tapi satu hal yang pasti, lagu itu telah menyusun kesadaranku tentang kota yang kudiami ini.

Seluruh lagu pasti memiliki kekuatan visualnya sendiri, begitupun juga setiap lanskap fotografis pasti memiliki bangunan musikalnya tersendiri. Lagu tersebut kemudian seperti menyatakan sebuah pernyataan atas kehilangan. ‘Kamu’ bisa saja menjadi subjek yang riil, dan bisa juga jadi subjek yang abstrak, yang tentunya keduanya bisa dirasakan. Perasaan-perasaan terasing, mengasingkan dan diasingkan. Kupikir rindu itu lahir dari sana; dari ingatan masa lalu dan harapan yang tak tentu.

Aku menyusun kata-kata pendukung lagu itu dari potret-potret yang terkumpul dalam ingatanku, dan aku kemudian menyadari betapa pentingnya ingatan fotografis dalam penulisan lagu. Dan tentu saja, jika lagu ini telah sampai pada pendengar lain yang memiliki ingatan dan pengalaman tersendiri, maka akan berbeda pula gambaran visual yang didapatinya. Sangat bebas. Dari satu lagu bisa muncul beratus-ratus pembayangan visual, dan dari satu lanskap ingatan fotografis tertentu bisa pula muncul beratus-ratus lagu yang mengalun menemaninya. Dan ketika kutatap selembar fotomu, tiba-tiba suasana menjadi hening, lalu ada lagu yang mengalun perlahan dalam kepalaku; “I kissed your honey hair / With my grateful tears / Oh, I love you girl”[1].

*Tulisan ini dipersembahkan untuk Sarasehan Pameran Angkatan XXI Unit Fotografi UGM, “Telinga dan Imajinasi”, 22 September 2014.

[1] Potongan lirik dari lagu yang berjudul For Emily, Whenever I May Find Her, milik  Simon & Garfunkel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s