Puisi Panjang untuk Kisah Cinta yang Tergesa

Processed with VSCOcam

Ada benarnya juga tentang apa apa yang kita perdebatkan selama ini
Aku mungkin hanya bisa menuliskan lagu sedih
Yang mengingatkanku pada usaha kita yang sia-sia
Juga semua lagu yang pernah kita dengar bersama
Yang memaksaku untuk terus mengingatmu

Mengapa mencintaimu begitu rumit?
Sementara di luar sana orang-orang sibuk memperdebatkan calon presiden yang baru, mencari penemuan terbarukan atas rumus fisika nuklir, atau teknologi yang kian tak terkejar.
Sedang aku masih saja terjebak pada cinta lama, luka lama

Apa itu cinta? Masih saja kupertanyakan hal itu pada teman-temanku, yang mereka sendiri hanya berpura-pura menjawab dan pura-pura tahu soal itu semua
Sementara kamu telah menjalani hari yang baru, berharap menjadi bahagia, meski hari ini saja, tapi setidaknya kau akan bahagia, meski hanya hari ini saja.

Ada benarnya juga apa yang selalu kita perdebatkan selama ini
Mengapa kita mesti bertemu, mengapa pula kita mesti tak bertemu
Hidupmu berjalan menjauhi hidupku dan hidupku berjalan menjauhi diriku sendiri.

Kita sama sama berjuang untuk menghapus ingatan, melupakan kenangan, padahal kita tengah merayakannya sehari semalam tanpa rehat, padahal kita menyimpannya rapat-rapat di bawah bantal, di dalam laci di lemari baju, di abjad-abjad yang kaku, di setiap hari kita membuka mata, di mana-mana di kota ini.
Tapi kau akan pergi juga. Tapi kau akan kembali juga. Tapi aku tak juga menemuimu, tapi aku tak juga lelah menunggumu.

Bisakah aku menatapmu dengan kebencian? Dengan dendam? Kau katakan itu cinta, itu cinta yang memancar dari mataku, sedang itu adalah luka bagiku.

Tapi kupikir ada benarnya juga apa yang selama ini kita perdebatkan
Kau terlihat lebih kurus sekarang, dan kau pasti bahagia atas itu. Rambutmu yang biasanya terlihat panjang kini kau pangkas jadi pendek. Tapi apakah semuanya itu ada bedanya, tetap saja aku tak bisa lagi membelainya. Merasakan resah yang meluncur perlahan dari pangkal hingga ujung rambut dan segera kutangkap dengan belai jemari. Apakah ada bedanya?

Kau mungkin tak tahu, betapa aku ingin kembali menjadi kanak-kanak. Melewati hari demi hari, tahun demi tahun menanti untuk bertemu denganmu.
Bukan di masa ini, yang telah lain sama sekali. Di mana setiap detik, jam, hari, waktu, abad, masa hanya memisahkan dirimu semakin jauh dari rinduku. Setiap langkah hanya membuat penantian semakin tak menentu, membuatku menunggu bahwa suatu hari kau akan kawin dengan orang pilihanmu dan orang yang memilihmu. Mengenakan pakaian yang mungkin biasa saja, mungkin gemerlap, tapi pasti bahagia. Berdiri bersanding dengan senyum yang membentang, atau mungkin sedikit tertahan karena menahan lelah di kakimu, dan meladeni antrian pengunjung yang ingin bersalaman dan menggucapkan selamat padamu, tapi pasti kau akan bahagia. Dan setelahnya aku akan menunggu lagi, kau akan punya anak yang pasti tampan dan atau cantik, yang tangisannya membuat senyum dan tawamu bercampur air mata, yang rengekannya membangunkamu di malam hari, yang membuat tidurmu tak nyenyak, tapi sekali lagi, kau pasti bahagia.

Sedang aku mungkin masih juga sibuk mencari cara untuk melupakanmu. Sebagaimana kau tahu itu permintaan terakhirmu padaku. Untuk terus melanjutkan hidup tanpamu. Untuk terus berjalan dan bahkan mungkin berlari. Kau tahu, ini adalah satu-satunya dalam hidup yang paling kutakutkan. Kesepian. Dan kita tahu kita pasti akan kesepian pada akhirnya. Tapi tenanglah, karena aku akan selalu menyibukkan diriku dengan menulis tentangmu. Atau mungkin aku tak akan menulis lagi tentangmu. Aku menulis untuk menggapaimu, sedang aku tak akan pernah menggapaimu. Karena—selain kehilanganmu—tak ada lagi yang lebih malang dari hidupku daripada menulis puisi sepanjang ini, atau aku bisa saja menulis puisi sepanjang tiga halaman kepadamu, atau mungkin tiga puluh halaman, atau mungkin seratus halaman, atau mungkin seribu sembilan ratus tiga puluh tujuh halaman kepadamu hanya untuk tidak kau baca, bahkan hanya untuk kau sebut aku galau. Atau berkata, “Sudahlah”.

3 thoughts on “Puisi Panjang untuk Kisah Cinta yang Tergesa”

  1. Hai.
    Aku kedinginan pas baca. Karena jendela terbuka lebar.
    Aku sedih pas baca. Karena bertengkar terus dengan pacar.
    Tapi aku bangga pas baca. Karena kamu tidak pernah menyerah.
    Kamu juga akan bahagia. Kita semua akan.🙂

  2. Dia pasti yang sangat memberi kesan untukmu ya. Dia pasti yang sangat kamu kagumi. Tapi adakah cinta yang lebih indah daripada cinta yang ikhlas dan tulus? Yang saling memberi dan menerima. Tanpa harus merasa sakit pada salah satunya?
    Kamu pasti akan bahagia dengan yang mencintaimu. Kamu hanya perlu melepas dan mengikhlaskan yang bukan milikmu. Tuhan pasti menyimpan hadiah besar untukmu suatu hari nanti.
    Have a good life then. Releasing is something good for life🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s