Soekarno: Verafgoden Voor Wat

Saudara-saudara,

Sudah berhari-hari saya menyimak dengan seksama apa itu kritiek film yang disampaiken beberapa penonton ahli. Pembaca toniil yang mumpuni untuk menulis dan melakuken sebuah evaluasi terhadap film yang dikerjaken oleh saudara H. Bramantyo. Semua bicara bahwa isinya filmnya itu jelek. Bahwa filmnya itu luput. Zonder dilengkapi dengan apa itu riset yang jelas.

Bahwa benar adanya, apa yang mereka katakan semuanya adalah benar. Bahwa saya tidak sedikitpun bisa dengan senang hati menerima kehadiran film soal Presiden Mandataris, Presiden Perdana Menteri, Presiden Panglima Tertinggi, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Paduka Jang Mulia; Sukarno.

Saudara-saudara,

Hari ini, pada kesempatan ini, saya berbicara melalui tulisan ini, berbicara kepada seluruh rakyat Indonesia, juga sekaligus kepada seluruh dunia, dari timur sampai ke barat, dari utara sampai ke selatan. Saya tidak berbicara sebagai penulis ahli, pengamat film mumpuni, atau ahli sejarah Indonesia. Saya berbicara sebagai penyambung lidah penonton.

(tepuk tangan oleh seluruh penghuni indekost)

Dan saya, saudara-saudara, tentu tidak serampangan dalam melakuken klaim atas penonton. Bahwa setidaknya, saya adalah juga seorang penonton film tersebut, juga dengan kawan-kawanku mahasiwa yang lain, yang juga penonton. Saya di sini berbicara dengan suara saya sendiri, yang tidak puas, dan atas nama kawan-kawan penonton yang lain, yang juga tidak puas.

Berbagai macam aspek dari film sudah ditelaah secara seksama. Telah dikuliti sehingga telanjang bulat. Tapi, adalah hal-hal yang saya pikir kurang, yaitu soal sikap Paduka dengan perempuan yang mendampingi beliau.  Juga soal ketrampilan berbicara Paduka Jang Mulia Bung Karno. Satu hal lagi, soal idee dan weltanschauung cemerlang yang muncul dari paduka. Semuanya saya kira nampak tidak elok.

Saudara-saudara,

Kita tahu, Paduka Jang Mulia memiliki sembilan orang wanita dalam kehidupannya. Kita tahu, bahwa benar, bahwa cerita latar yang ditampilken dalam film itu sedikit runut, juga sedikit luput, karena sosok Oetari Tjokroaminoto tidak sama sekali dihadirken. Istri pertama Bung Besar.

Paduka memang pasti pernah lemah dan rapuh, juga seperti kebanyakan orang, tapi sekaligus tidak seperti kebanyakan orang, karena beliau selalu kembali berdiri tegak. Sosok Sukarno yang diperanken oleh pemuda Ario Bayu membuat saya berpikir ulang, apa gunanya saya, seumur hidup ini verafgoden Paduka Jang Mulia Sukarno. Untuk apa?! Voor wat?! Sekali lagi, untuk apa?!

(tepuk tangan oleh seluruh penghuni indekost)

Jikalau saya harus dipaksa harus percaya kepada sosok yang dihadirken dalam film tersebut, sosok yang menurut saya jadi terlihat rapuh, ora lanang. Tidak mencerminken sikap pribadi Bung Besar. Bagaimana bisa, seorang yang begitu percaya diri dan mempersiapken kepercayaan dirinya bisa tertunduk lesu, hilang konsentrasi di hadapan Bung Hatta lantaran gelisah bimbang soal perempuan? Saya tidak percaya ketika Bung Besar sedang urusan di Jakarta dengan Dai Nippon lalu dia bersikap tertegun termenung, di tengah pembicaraan soal kesepakatan yang rawan diciderai oleh pihak Nippon. Saya tidak percaya!

Satu hal yang patut digarisbawahi oleh saudara H. Bramantyo yang saya hormati, yaitu Bung Karno lebih takut dipisahken dari Rakjat daripada dipisahken dengan perempuan. Bahwa Rakjat adalah sumber utama kekuatan Bung Karno.

(tepuk tangan oleh seluruh penghuni indekost)

Kalau saudara-saudara tidak percaya dengan saya, silakan cermati dan bikinlah bayangan sendiri tentang sosok pria yang bisa berlaku seperti ini. Kepada Oetari dia bilang, “Lak, tahukah engkau bakal istriku kelak? Orangnya tidak jauh dari sini, kau ingin tau? Boleh. Orangnya dekat sini kau tak usah beranjak, karena orangnya ada di sebelahku.” [1] Itu usia Paduka baru dua puluh tahun. Kepandaiannya merayu tidak cocok sama sekali dengan karakter yang dimainken oleh pemuda Ario Bayu. Di samping itu, adegan ini pun tidak tercatat sama sekali dalam film tersebut.

Lalu, kepada Ibu Inggit Ganarsih, tuanku Paduka berkata, “Aku kembali ke Bandung..dan kepada tjintaku jang sesungguhnya.” Paduka Jang Mulia mempersunting Inggit pada tahun 1923. Pada waktu itu usia beliau 22 tahun sedangkan Ibu Inggit sudah berusia 36 tahun. Perlu diketahui, Ibu Inggit adalah seorang wanita yang tangguh, meskipun ia tidak pernah terjun secara langsung membantu politik suaminya, tetapi beliau menjadi penopang keluarganya dengan berjualan bedak dan jamu. Dengan berjualan itu, beliau bisa membiayai sekolah Sukarno di THB dan menyediaken makanan serta keperluan hidup mereka. Pada saat Paduka masuk penjara, Ibu Inggit berjalan kaki dari rumahnya ke penjara Sukamiskin setiap hari untuk mengantarken makanan. Bahkan, ketika Paduka hampir bertekuk lutut dan menyerah, Inggitlah yang menopang Sukarno untuk kembali berdiri di atas kakinya.

Adegan macam itu memang ada, iya ada. Tapi tentu, bukan kemudian lantas menjadiken sosok Paduka ini bagai laki-laki lemah, menye-menye, sontoloyo. Selanjutnya, saudara-saudaraku setanahair, Dalam masa pengasingan Paduka di Bengkulu, Bung Karno berkenalan dengan Fatmawati, yang kelak kita kenal sebagai Ibu Negara Indonesia yang pertama. Pertemuan pertama kali Sukarno dengan Fatmawati terjadi saat Sukarno mengajar di organisasi Muhammadiyah setempat. Fatmawati sendiri adalah salah satu muridnya. Kepadanya ia mengatakan, “Engkau menjadi terang di mataku. Kau yang akan memungkinkan aku melanjutkan perdjuanganku yang maha dahsyat.” [2]

Sekarang saya minta, saudara-saudara bayangken. Bagaimana mungkin, pria segagah itu, dengan kata-kata sejernih itu, kok ya digambarken duduk dua-duaan di pinggir pantai sambil curi-curi kesempatan untuk merangkul sambil bahas perang dan kemungkinan Nippon masuk ke negara Indonesia. Saya kira itu adalah adegan yang gegabah, adegan yang dihadirken secara nekat! Sama sekali tidak haibat. Apanya yang haibat, ya cara merayunya!

(tepuk tangan oleh seluruh penghuni indekost)

Saudara-saudara,

Saya paham, pasti di antara saudara-saudara banyak yang bertanya-tanya kenapa ini orang yang bertempat di Sleman, yang peranakan Purwokerto, Banyumas ini ribut soal kejantanan Paduka Jang Mulia ini. Apa ini orang sedang gembar-gembor apa itu yang namanya maskulinitas? Tidak. Apa ini orang belum paham logika feminisma? Bukan. Justru saudara-saudara, saya sedang meninggiken derajat para perempuan pendamping Paduka. Bahwa, perempuan yang berhasil memikat paduka adalah perempuan yang luar biasa istimewa. Bukan sekonyong-konyong mau saja dengan paduka. Lain daripada itu, saya juga sedang menyampaiken bahwa Paduka Jang Mulia adalah seorang yang tidaklah mungkin berperilaku gembeng seperti apa yang itu gelagatnya diperanken oleh pemuda Ario Bayu.

Lalu, saudara-saudara kini bertanya lagi, lalu untuk apa saya repot-repot bicara ngalor-ngidul soal relatie Paduka dengan perempuan-perempuan dalam hidupnya. Lhoh, sekarang saya tanya dengan saudara-saudara sekalian, majelis penonton yang mulia. Ini film soal apa sih? Ini kan film soal rumah tangga Tuanku Paduka Jang Mulia dengan Ibu Inggit yang mengalami prahara, karena Paduka ingin memperistri Ibu Fatmawati. Ya kan?! Soal itu saja, sudah. Pas kebetulan lagi ada pendudukan Nippon, pas kebetulan lagi akan terjadi Proklamasi kemerdekaan Negara Indonesia. Iya kan?!

(tepuk tangan oleh seluruh penghuni indekost)

Entah bagaimana, ini film bisa keblinger. Kok ya tega-teganya memperlakuken sejarah macam itu. Tapi sekali lagi, saudara-saudara, saya bukanlah ahli sejarah, bukan pemikir politik jempolan, saya cuma numpang jadi penonton saja. Lagipula, tuan-tuan kritikus sudah banyak bicara dan mengeluarken maklumat menyoal film ini. Dari sudut pandang kemlesetan sejarah, kemlesetan ini, kemlesetan itu. Satu hal lagi, kalau mau bicara hal yang lain, misalnya gagasan Paduka, yang seringkali mengguncang Indonesia, juga mengguncang dunia saya rasa tidak hadir dalam film, tidak mewujud. Lantas apa yang hadir, yaitu tadi, yang saya persoalken sejak tadi, kisah cinta. Kalau mau bicara soal kisah cinta ya saya turuti bicara soal kisah cinta. Itu saja masih luput saudara-saudara. Masya Allah…

Begini saja, saudara-saudara. Kiranya saya telah berpanjang lebar dalam menyampaiken pidato saya. Maka, akan saya garisbawahi lagi urusan-urusan apa yang sebenarnya saya persoalken di sini. Pertama, sosok Paduka Jang Mulia digambarken tidak sesuai oleh pemuda Ario Bayu. Dia terlalu lemah memeranken sosok singa podium, bahwa pidatonya saja terkesan kurang latihan. Kedua, relatie yang digambarken pada film saya anggap membuat Paduka menjadi sosok yang tidak rupawan, percaya diri, berkemauan tegas, ambisius, dan lainnya. Gambaran yang hadir hanya memperlihatken bahwa paduka adalah seorang laki-laki yang gundah gulana karena perempuan. Kerjaannya mikirin perempuan, bukan Rakjat. Itu kurang elok. Ketiga, Paduka tidak sedikitpun terlihat memberiken gagasan yang fundamental lagi mahadahsyat dalam rangka pembangunan bangsa. Di mana ada itu poin soal nation and character building? Perdebatan perkara bentuk negara dengan Bung Hatta disederhanakan dengan sebegitu kecilnya. Sosok Marhaen yang jadi inspirasi Paduka hanya digambarken sekilas dan sangat rawan dilupaken, yang ditekanken hanya persoalan bini saja. Jadi, dengan ini, jikalau merujuk kepada film ini untuk belajar soal Paduka Jang Mulia Sukarno maka tidak ada yang pantas untuk diidolaken. Seperti judul pidato saya ini, untuk apa mengidolaken Sukarno. Saudara-saudara, maka dengan melihat ini fenomena, saya nyataken bahwa keberadaan Paduka Jang Mulia Sukarno sedang ada padaThe Years of Living Dangerously, sedang ada pada tahun vivere pericoloso. Hampir-hampir Bung Karno ini dihabisi. Habis!

(tepuk tangan oleh seluruh penghuni indekost)

Tapi, bukan saya tidak menghargai film ini. Mungkin saudara H. Bramantyo sedang mencoba mengamalkan sebuah konsep besar milik Bung Karno, yang disariken dari karakter Marhaen, yang melandasi semangat memerdekaken Indonesia pada waktu itu. Bung Karno pernah sampaiken dalam pidatonya,

”Cobalah pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusiapun demikian, Saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin. Ada yang berkata: Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji F. 500. Kalau saya sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik, sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai sendok garpu perak satu kaset, sudah mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya berani kawin. Ada orang lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja satu, kursi empat, yaitu ‘meja makan’, lantas satu zitje, lantas satu tempat tidur. 

Ada orang yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk dengan satu meja, empat kursi, satu zitje, satu tempat tidur: kawin. Sang nDoro yang mempunyai rumah gedung, electrische kookplaat, tempat-tidur, uang bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana yang lebih bahagia, Sang nDoro dengan tempat tidurnya yang mentul-mentul, atau Sarinem dan Samiun yang hanya mempunyai sätu tikar satu periuk, saudara-saudara!”

(tepuk tangan, dan tertawa)

“Tekad hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu periuk, dan hati Sang nDoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai gerozilver satu kaset plus kinderuitzet, buat 3 tahun lamanya!” 

(tertawa)

Saya hargai kebulatan tekad Bung Bramantyo, tapi tidak dengan begini jadinya. Tentu, harus dengan kerja keras. Kerja keras yang lebih keras dari pada ini. Sebuah perjuangan yang tiada akhir. Kita semua harus siap digembleng oleh keadaan. Digembleng hampir hancur lebur bangun kembali! Digembleng hampir hancur lebur bangun kembali!

Terima kasih saudara-saudara yang telah berkenan mendengar pidato dari saya. Saya akan akhiri dengan pekikan salam perjuangan yang tidak sekalipun diteriakken dalam film Soekarno. Sebuah salam yang membakar dan menyalaken kobar api semangat perjuangan bangsa. Salam yang pernah menjadi salam nasional negara kita.

Merdeka!!!

Merdeka!!!

Merdeka!!!

(seluruh penghuni indekost menyambut pekikan salam perjuangan)

***

Tulisan ini pertama kali dimuat sebagai tulisan di situs film mandiri cinemapoetica.com pada tanggal 9 Januari 2014. 

Artikel asli dapat dibaca juga di: 

http://cinemapoetica.com/harian/sketsa/soekarno-verafgoden-voor-wat/

Judul naskah ini Untuk Apa Mengidolakan Soekarno. Diterjemahkan serampangan dari Google Translate dan Kamus Saku Bahasa Belanda-Indonesia Indonesia-Belanda. Ada baiknya tulisan ini dibaca dan dibayangkan sebagai teks pidato yang dibacakan. Pidato ini dibacakan di sebuah ruang indekost di Sleman, Yogyakarta. Disaksikan oleh seluruh penghuni indekost.


[1] Edisi Perdana Majalah JASMERAH Juni-Juli. The Curious Case of Sukarno; Sisi lain kehidupan presiden pertama di tengah gejolak dan intrik dunia perpolitikkan. Hal. 05.

[2] Ibid, hal. 06.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s