Petualangan Si Jangkung Kliwon 3; Si Cantik Gajah

 

Suatu hari menjelang pertemuan pengetahuan yang kedua, yang akan diisi dengan pembagian pengetahuan dari Si gajah. Kliwon dan Kuro tengah berbaring bersama di padang rumput yang luas. Angin bertiup semilir. Dedaunan di atas pohon saling bergesekan, menyusun sebuah lagu yang merdu di yang mengiringi siang yang cerah.

“Kuro, apa kau tahu siapa yang akan membagi pengetahuannya saat pertemuan pengetahuan besok?” tanya Kliwon kepada Kuro.

“Si Cantik Gajah! Betul kan?! ” jawab Kuro.

“Iya betul,” jawab Kliwon. “Eh, apa kau sudah pernah dengar bagaimana Si Gajah itu mendapatkan telinga yang cantik itu?” sambung Kliwon bertanya lagi pada Kuro.

“Belum pernah,” jawab Kuro. “Tapi aku tahu, karena telinganya yang lebar dan cantik itu Si Gajah jadi bisa mendengar kabar-kabar yang penting. Dia dapat menerima segala macam pesan dari bermacam suara dan bebunyian. Begitu kan?!” lanjut Kuro menegaskan.

“Iya, benar sekali katamu Kuro. Maka dari itu dia akan membagikan pengetahuannya besok,” jawab Kliwon.

“Iya, itu aku sudah tahu. Tapi, apa ceritamu tentang Si Cantik  Gajah itu? Kau akan menceritakannya atau tidak?” sahut Kuro penuh rasa penasaran.

“Hehehe. Oh iya, aku jadi lupa ingin meceritakannya kepadamu,” jawab Kliwon sambil malu-malu.

“Cerita ini kudengar dari Kakekku saat aku masih kecil,” sambung Kliwon. “Apa kau sudah siap mendengar ceritaku?” ucap Kliwon memastikan.

“Sudah, siap, ayo mulailah ceritamu itu, aku sudah tak sabar ingin mendengarnya,” jawab Kuro semakin penasaran.

“Baiklah, begini ceritanya,” Jawab Kliwon sesaat sebelum memulai ceritanya.

Pada jaman dahulu, hiduplah seekor Gajah yang murung. Ia tinggal di belantara hutan di kaki Gunung Slamet. Dia memiliki tubuh yang besar, belalai yang panjang, dan sepasang gading yang tajam. Oleh karena itu, Gajah merasa dirinya menyeramkan. Dia merasa teman-teman binatang lain enggan bermain dengan Gajah. Sejak itulah, Gajah menjadi murung dan kesepian.

Suatu hari, Gajah berjalan sendirian di tengah hutan. Dia melihat seekor Ulat bulu yang cantik. Ulat bulu itu sedang berjalan di dahan pohon. Si Gajah lalu mendekatinya. Ternyata ulat bulu itu sedang menangis.

“Hai ulat bulu yang cantik, mengapa engkau menangis?” tanya Si Gajah.

“Huuu… huuu… Aku takut. Aku tak sengaja menjatuhkan makanan para Semut rangrang. Sekarang mereka marah padaku, sssk… sssk…” ucap ulat bulu sambil terisak.

Si Gajah kemudian menyapa sekawanan semut rangrang yang berada pada dahan pohon itu. “Wahai semut rangrang, maafkan ulat bulu ya. Dia tidak sengaja menjatuhkan makananmu. Biar kuambilkan makananmu di bawah. Jangan marah ya semut…”

Dengan belalainya, si Gajah mengambil makanan semut yang terjatuh di tanah. Dia membersihkannya dan memberikan makanan tersebut kepada semut.

“Terima kasih Gajah. Kami akan memaafkan kesalahan si Ulat bulu.” kata pemimpin kawanan Semut rangrang. “Lain kali berjalanlah dengan hati-hati ya Ulat bulu.” pesan pemimpin Semut rangrang kepada Ulat bulu.

“Iya Pak Semut, aku akan berhati-hati. Maafkan aku Pak Semut.” ucap Si Ulat bulu.

Kawanan Semut pulang kerumahnya. Kini tinggal Gajah dan Ulat bulu di hutan sepi itu. Tanpa basa-basi, Si Gajah beranjak pergi. Ia tidak berpamitan kepada Ulat bulu.

“Hei Gajah yang baik, kamu akan pergi kemana? Mengapa tidak bermain dulu denganku?” ajak Si Ulat bulu.

“Hah? Bermain? Apa kamu tidak takut kepadaku? Aku kan menyeramkan.” jawab Si Gajah.

“Ohh… jadi itu yang membuatmu murung? Baiklah Gajah, kamu boleh pergi. Tapi kamu harus berjanji terlebih dahulu kepadaku.” kata Ulat bulu.

“Janji apa ulat?” tanya Gajah kebingungan.

“Kamu boleh pergi sekarang. Tapi di malam bulan purnama nanti, kamu harus datang ke sini dan menemuiku lagi. Aku ingin memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasihku kepadamu.” jawab Ulat bulu.

“Baiklah, aku berjanji akan datang ke sini saat bulan purnama nanti.” ucap Si Gajah.

Mereka berdua pun berpisah. 

Gajah menunggu datangnya bulan purnama. Ia masih juga berjalan sendirian dan berwajah murung. Binatang-binatang yang lain sebenarnya sedih melihat keadaan si Gajah. Tapi apa daya, Gajah lebih memilih menyendiri daripada bermain dengan teman-temannya. Binatang lain pun menjadi sungkan untuk mendekati Gajah.

Akhirnya tibalah malam yang dinanti. Malam bulan purnama. Gajah berjalan dengan lesu ke pohon tempat tinggal Ulat bulu. Namun, sesampainya di sana, Gajah tidak menemukan Ulat bulu. Gajah mencarinya kesana-kemari. Tetap tak juga ia temukan si Ulat bulu. Tapi Si Gajah sabar menunggu kedatangan Ulat bulu.

Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil-manggil Si Gajah. “Gajaaah… Gaaajah…”

Si Gajah mencari dari mana suara itu berasal. Ternyata, suara itu berasal dari seekor kupu-kupu yang sangat cantik. Tubuhnya berkilauan, warnanya seperti warna matahari di sore hari.

“Hai Gajah apa kau tidak mengenaliku?” tanya kupu-kupu cantik.

“Tt..ti..tidak. Siapa kamu? Apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?” Gajah menjawab dengan tergagap. Karena ia kagum dengan kecantikan kupu-kupu.

“Ya, kita pernah bertemu. Kamu mendamaikan aku dengan semut rangrang. Kamu ingat? Dulu aku adalah seekor Ulat bulu. Dalam waktu sebulan ini aku menjelma kupu-kupu.”

“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu Gajah. Aku ingin kamu tidak murung lagi.”

Selama Kupu-kupu berbicara, Gajah hanya mampu berdiam diri. Ia masih terpesona dengan kecantikan kupu-kupu.

Setelah itu, Kupu-kupu meminta agar gajah menutup matanya. Ia akan segera memberikan hadiah untuk Si Gajah.  Gajah pun memejamkan kedua matanya, kemudian Kupu-kupu hinggap di kening Si Gajah. 

Perlahan-lahan muncul cahaya yang berkilauan dari sayap Kupu-kupu. Bulan purnama yang terang benderang pun turut mengirimkan cahayanya kepada sayap Kupu-kupu. Sayap Kupu-kupu menjadi semakin terang dan semakin berkilau. 

Keajaiban terjadi, tanpa diduga kini terkepak sepasang daun telinga di kepala gajah. Bentuknya mirip sekali dengan sayap Kupu-kupu. Cantik, elok, serta membuat Gajah terlihat ramah dan menawan.

“Kini bukalah matamu Gajah! Mari kita berjalan ke danau.” ajak Kupu-kupu.

Mereka berdua berhenti di pinggir danau. Kupu-kupu menyuruh Gajah untuk bercermin di permukaan danau.

Gajah tertegun melihat sepasang daun telinga yang terkepak indah di kepalanya. Apalagi bentuk telinga sangat mirip dengan sayap Kupu-kupu.

“Waaah… Terima kasih Kupu, kau telah memberiku hadiah yang tak ternilai.” ucap Gajah seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Iya Gajah, kembali kasih. Aku berikan kamu hadiah sepasang telinga yang lebar dan cantik. Mudah-mudahan kamu suka dan tidak murung lagi.” kata Kupu-kupu. 

“Sekarang kamu tampak ramah dan cantik. Binatang-binatang lain pasti akan menyukaimu. Dengan telingamu yang lebar, kamu akan dapat mendengarkan semua cerita. Baik cerita sedih maupun cerita bahagia.” lanjut kupu-kupu.

“Terima kasih Kupu-kupu. Aku sungguh menyayangimu.” ucap Gajah terharu.

Mereka berdua lalu menghabiskan malam di pinggir danau. Di bawah terangnya bulan purnama. Malam semakin larut. Gajah dan Kupu-kupu tertidur dengan wajah tersenyum.

Keesokan harinya, Gajah tak lagi murung. Dia mengajak semua binatang bermain bersama. Binatang-binatang lain pun menjadi tidak takut lagi kepada Gajah. Mereka justru sangat gembira bermain dengan Gajah. Ada yang bermain ayunan dengan belalai Gajah, ada yang menaiki punggung Gajah. Semuanya asyik bermain bersama.

Mereka mau bermain dengan Gajah bukan hanya karena telinganya yang kini cantik dan indah. Akan tetapi, karena Gajah sekarang menjadi periang dan ramah. Sebenarnya, binatang lain enggan bermain dengan Gajah karena ia selalu berwajah murung. Bagi binatang lain, muka yang cemberut adalah hal yang menyeramkan.

Namun, kini semuanya telah berbeda. Wajah Si Gajah selalu penuh dihiasi dengan senyuman ramah. Ditambah dengan telinga Gajah yang cantik, mirip sayap Kupu-kupu. Telinganya yang lebar membuat dia selalu mampu menampung semua cerita dari teman-temannya. 

Sejak itulah, Gajah menjadi sangat disukai oleh semua binatang. Gajah bertubuh kuat, berparas cantik, dan berperanggai ramah. Lebih dari itu, Gajah adalah pendengar terbaik. Sampai saat ini semua binatang suka memanggilnya dengan sebutan Si Cantik Gajah. 

Tanpa disadari hari telah beranjak sore. Cerita dari Kliwon tentang Si Cantik Gajah telah selesai disampaikan. Kuro mendengarnya dan tersenyum puas. Kliwon dan Kuro terus bercakap-cakap dan semakin tak sabar menantikan pertemuan pengetahuan kedua yang akan diisi dengan pembagian pengetahuan dari Gajah. Percakapan mereka tak terdengar lagi, diganti dengan nyanyian dari sekelompok burung yang baru bangun dari tidur siang. Di atas dahan pohon, di teras sarang rumahnya. Mereka bernyanyi merdu sekali.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s