Petualangan Si Jangkung Kliwon 2; Pertemuan Pengetahuan

Pagi yang cerah di padang rumput yang basah. Sisa hujan semalam belum mengering.  Bulir-bulir embun masih betah menempel pada ujung rerumputan.

Seekor burung hantu duduk tenang di pangkuan dahan pohon rimbun nan besar, mereka berbicara dengan serius. Sementara di bawahnya, seekor gajah mendengarkan dengan seksama.

Mereka bertiga sedang merencanakan untuk mengadakan sebuah pertemuan. Pertemuan yang ditujukan bagi seluruh penghuni padang rumput. Sebuah pertemuan pengetahuan.

Ketiganya bukanlah yang paling pintar. Namun, mereka bertiga adalah yang paling sering mendapat pengetahuan yang lebih dari para penghuni padang rumput lainnya.

Pohon besar seringkali mendapat pengetahuan dari angin. Angin membawa kabar berita dari tempat lain. Melalui dedaunan, berita itu disimpan. Akarnya yang besar menjalar ke dalam tanah, menyerap pengetahuan dari dalam tanah. Dan menyimpan semua cerita yang diberikan oleh makhluk di dalam tanah. Cerita yang tidak diketahui oleh penghuni pada rumput yang tinggal di permukaan.

Burung hantu melihat semua kejadian di malam hari. Saat itu para penghuni padang rumput tengah lelap tertidur, dia bertengger di atas dahan pohon yang tinggi. Menyaksikan apa yang tidak pernah disaksikan penghuni lainnya. Dia dapat mengerti bahaya apa saja yang dapat datang  sewaktu-waktu saat semuanya tertidur.

Sang gajah mendengar dengan seksama; setiap bunyi, cerita, dan kabar yang tersiar. Telinga yang cantik dan lebar membuat semua kabar yang tersiar mudah terdengar. Kabar dari langit maupun dari belahan dunia yang lain selalu terdengar oleh telinga Sang gajah. Belalainya yang panjang dan kuat sanggup mencium dan membedakan segala jenis makanan yang beracun atau aman untuk dimakan.

Karena kelebihan yang dimiliki oleh mereka bertiga, maka mereka hendak menyebarluaskan pengetahuannya kepada seluruh penghuni padang rumput. Agar mereka semua mendapatkan pengetahuan yang sama dan dapat saling menjaga.

Setelah menyepakati untuk mengadakan pertemuan, maka Pohon besar memanggil angin. Angin diberi tugas untuk menyiarkan kabar kepada seluruh penghuni padang rumput. Pertemuan pengetahuan akan diadakan esok pagi. Waktunya tepat berbarengan dengan waktu bangunnya Matahari, Sang penerang.

Kemudian angin berkeliling ke seluruh padang rumput, menyiarkan kabar yang harus disampaikan. Disampaikannya berita itu pada seluruh dedaunan. Dedaunan berbisik meneruskan kabar tersebut. Berita itu sampai kepada rerumputan. Rerumputan bergoyang dan saling bergesekan meneruskan kabar berita tersebut. Berita itu sampai kepada burung-burung. Burung-burung berkicau dan beterbangan, menyanyikan lagu tentang kabar berita tersebut.

Akhirnya semua penghuni padang rumput mendengar kabar tersebut, tidak satupun penghuni yang terlewat. Mereka semua senang dan bersemangat untuk menghadiri pertemuan pengetahuan esok hari. Tak terkecuali Jerapah si jangkung Kliwon, Kuro si kura-kura, dan empat Ayam bersaudara, 4 Jalu. Mereka sangat bersemangat.

*

Keesokan harinya, sebelum matahari terbangun mata Kliwon sudah berkedip-kedip. Dia bangun lebih awal karena dia sangat bersemangat. Lalu dia berangkat ke tempat pertemuan pengetahuan yang jaraknya cukup jauh.

Sesampainya di sana, 4 Jalu sudah duduk rapi. Tak lama kemudian, para binatang lain datang bergantian. Tapir, Kuda, Macan, Singa, Rusa, Kerbau, Sapi, dan binatang lainnya datang silih berganti. Mereka memenuhi tempat yang telah disediakan.

Segala macam burung duduk berderet rapi pada dahan-dahan pohon yang tersedia. Pohon kecil, pohon pendek, pohon besar, dan pohon tinggi berderet berangkulan. Mereka bersiap menyimak pembagian pengetahuan. Rerumputan duduk rapi memenuhi daratan. Bunga-bunga kecil hadir dengan pakaian yang berwarna-warni. Ada yang berwarna merah muda, kuning, ungu, putih, merah dan warna –warna lainnya.

“Di mana Kuro?” tanya Kliwon kepada 4 Jalu.

“Aku tak tahu, aku tak melihatnya dari tadi,” jawab Jalu merah.

“Hey Kliwon coba kau lihat sekelilingmu!”

“Siapa tahu dia ada di belakang.” Gunakan leher panjangmu,” ucap Jalu hitam kepada Kliwon.

“Baik, tunggu sebentar,” jawab Kliwon.

Kliwon lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari. Tidak juga kelihatan tempurung hijau milik Kuro. Ditinggikannya lagi lehernya, terus mencari.

“Tidak dapat kutemukan Kuro,” ucap Kliwon sedikit panik.

“Apa mungkin Kuro sakit?” tanya Jalu Hijau.

“Ah, tidak mungkin. Kemarin aku bermain sampai malam dengan Kuro, dia baik-baik saja,” jawab Jalu putih.

Sang Gajah mendengar kepanikan 4 Jalu dan Kliwon. “ Kliwon, 4 Jalu, dimanakah Kuro teman kalian?” tanya Sang gajah.

“Kami tidak tahu, Gajah,” jawab mereka serempak.

“Kuro bangun terlambat dan kesiangan, kemarin dia bermain hingga malam bersama Jalu putih,” ucap Burung hantu menjelaskan.

Burung hantu tahu dan melihat mereka berdua bermain hingga malam hari.”

“Kuro kelelahan hingga dia bangun kesiangan,” lanjut Burung hantu.

“Betul, aku kesiangan.”

“Maafkan aku.”

“Hoshh… hoshh…” ucap Kuro sambil ngos-ngosan.

Kuro berlari sekencang-kencangnya karena kesiangan dan mengetahui dirinya sudah terlambat. Semua binatang sangat bersemangat untuk datang sehingga lupa dan tidak ada satupun yang membangunkan Kuro.

“Maafkan aku Kuro, aku tak membangunkanmu,” sesal Kliwon.

“Maafkan aku juga Kuro yang mengajakamu main sampai malam hari, hingga membuatmu kesiangan,” ucap Jalu putih.

“Iya, maafkan kami Kuro,” lanjut 3 saudara Jalu melanjutkan.

“Iya, tak apa Kliwon, 4 Jalu. Semalam aku tidur telentang, jadi aku sulit bangun,” jawab Kuro.

Akhirnya, dengan sedikit terlambat, pertemuan pengetahuan dimulai. Hari pertama diisi oleh pembagian pengetahuan dari Burung hantu. Hari ini Burung hantu akan menjelaskan tentang kemana perginya matahari. Mengapa ada gelap dan terang pada saru hari. Pertanyaan yang telah sering diucapkan oleh seluruh penghuni hutan.

“Burung hantu, mengapa ada saat di mana setengah dari hari kita gelap? apakah matahari itu tidur? ataukah matahari pingsan? atau matahari itu mati sebentar?” tanya si Kliwon.

“Hmm, tidak Kliwon. Matahari tidaklah tidur, tidak juga pingsan, apalagi mati,” jawab Burung hantu. “Setelah beberapa saat gelap, matahari selalu datang lagi bukan?” lanjutnya.

“Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Matahari?” sahut si Kliwon.

“Khukhukhu, Kliwon, tanah yang kita pijak ini terbentang membulat seperti buah apel, bahkan lebih bulat darinya, bahkan lebih bulat daripada tempurung si Kuro,” jawab Burung hantu memulai membagi pengetahuannya.

“Aku pernah mendengar cerita dari temangku, sang Elang. Dia pernah terbang sangat tinggi dan melihat bentangan bulat tanah yang kita pijak ini,” sambungnya.

“Matahari berkeliling membagi terangnya ke belahan-belahan bulatan tanah yang kita pijak ini.” “Saat bentangan tanah yg kita pijak terang, maka belahan yang lain menjadi gelap. Saat bentangan tanah yang kita pijak gelap pada sekelilingnya, maka belahan yang lain menjadi terang,” Burung hantu terus menjelaskan.

“Saat gelap datang, kegiatan kita jadi terbatas, begitu juga dengan pandangan kita. Maka, saat gelap sebaiknya digunakan untuk mengistirahatkan tubuh kita. Agar kita dapat melakukan kegiatan lagi saat terang datang,” lanjut Burung hantu.

“Saat gelap datang kita sebut itu malam dan saat terang datang kita sebut itu siang,” tambah burung hantu.

“Jika malam terlalu gelap Matahari sering menitipkan cahayanya kepada Bulan. Cahaya yang kita dapat dari bulan tidak seterang cahaya dari Matahari. Temaram cahaya bulan memang lebih redup karena hanya mendapat sebagian dari cahaya Matahari, tapi justru remang-remang cahaya Bulan membuat kita beristirahat dengan tenang,” tutur Burung hantu.

“Nah, begitulah Mengapa ada gelap dan terang pada hari kita. Adakah yang ingin bertanya lagi tentang Matahari?” tanya Burung hantu.

Semua yang menghadiri pertemuan pengetahuan melongo mendengar penjelasan dari Burung hantu soal ke mana perginya Matahari.

“Hmm, aku ingin tanya!” sahut Kuro.

“Apakah matahari dan bulan pernah bertemu?” lanjut Kuro.

“Ya, tentu saja Kuro,” jawab burung hantu.

“Oh ya? Mereka kan muncul bergantian lalu kapan mereka bertemu?” sambung Kuro.

“Kuro, kau ingat ada satu saat ketika siang hari tapi sejenak matahri tak nampak dan sekeliling kita menjadi nampak seperti malam, itulah saat bulan menemui Matahari. Cuma sejenak, saling menyapa, lalu merak berpisah lagi. Matahari bersinar terang lagi. Pertemuan mereka disebut Gerhana Matahari,” Burung hantu menjelaskan kepada Kuro.

“Bagaimana? Masih ada pertanyaan lain?” Burung hantu kembali bertanya.

“TIDAAAAAKKKKK,” semua yang hadir pada pertemuan pengetahuan menjawab dengan serentak.

Kini, semuanya telah mengerti apa saja yang disampaikan oleh Burung hantu. Pertanyaan tentang ke mana perginya Matahari saat malam terjawab sudah. Merka bahkan mendapat pengetahuan yang lebih. Pengetahuan tentang dataran yg bulat, tentang Bulan dan tentang adanya kehidupan lain selain di dataran padang rumput yang mereka pijak.

Pertemuan pengetahuan hari pertama telah selesai. Dan akan dilanjutkan esok pagi dengan pembagian pengetahuan kedua. Sang gajah akan melakukan pembagian pengetahuan esik hari. Pertemuan selesai, semua penghuni padang rumput beranjak pulang.

“Sebentar, jangan pulang dulu teman-teman,” Pohon besar menghentikan langkah kepulangan para penghuni padang rumput.

“Agar tidak terjadi keterlambatan lagi seperti hari ini dan acara pertemuan ini dapat dimulai tepat waktu, ada baiknya kita saling membangunkan,” saran Pohon besar.

“Yaaa, kami setuju!” jawab seluruh penghuni padang rumput.

“Bagaimana kalau kita pilih siapa yang bertugas untuk membangunkan kita semua,” usul Singa.

“Baik, kita akan pilih siapa diantara kita yang bertugas membangunkan kita semua di pagi hari,” jawab Pohon besar.

Semua binatang satu persatu dipersilakan untuk mencoba membangunkan dengan suaranya. Singa, Macan, dan Sang Gajah telah mencoba. Tapi menurut para penghuni padang rumput suara mereka terlalu keras dan mengagetkan. Begitu juga dengan hewan lain, belum ada yang cocok dan disepakati untuk menjadi petugas bangun pagi.

Sampai pada giliran burung-burung kecil yang berkicau merdu.

“CUIIIT, CUITT, CICI CUIIT, CUIT, CUIT…”

Semua menyukainya. Tapi, suara mereka cocok dan enak didengarkan sesaat setelah para penghuni terbangun, bukan untuk membangunkan. Jika masih tidur dan terdengan suara mereka, bisa-bisa para penghuni semakin lelap dalam alunan kicau burung-burung itu.

Para penghuni masih bingung dan belum menentukan siapa yang menjadi petugas bangun pagi. Kini, tibalah giliran 4 Jalu. Satu persatu Jalu bersaudara berkokok.

“KUKURUYUUUUKKK…”

Jalu merah berkokok dengan baik. Lantang, merdu, dan tidak mengagetkan. Lalu,

“KUKURUYUUUUKKK…”

Jalu hitam berkokok sama baiknya. Lantang, merdu, dan tidak mengagetkan. Kemudian,

“KUKURUYUUUUKKK…”

Jalu hijau pun demikian. Berkokok dengan baik. Lantang, merdu, dan tidak mengagetkan. Setelah itu,

“KUKURUYUUUUKKK…”

Dan yang terakhir Jalu putih, tidak berbeda dengan ketiga saudaranya. Berkokok dengan baik. Lantang, merdu, dan tidak mengagetkan.

“Hmmm, aku rasa kita telah menemukan siapa yang akan bertugas menjadi petugas bangun pagi,” ucap Pohon besar.

“Siapakah itu wahai pohon besar?” tanya Sang gajah.

“4 Jalu yang akan bertugas,” jawab Pohon besar tenang.

“Salah satu dari mereka atau keempatnya?” tanya Sang gajah lagi.

“Mereka berempat, Gajah,” jawab Pohon besar.

“Mereka berempat akan bergantian berkokok. Satu persatu. Saling menyahut dan menyambut,” lanjut Pohon besar.

“Mereka akan bergantian berkokok sampai jidat Matahari terlihat di ujung timur.”

“Lalu, setelah jidat Matahari nampak, tugas berlanjut kepada burung-burung yang pandai menyanyi.”

“Bernyanyilah dengan merdu. Dengan begitu kita semua akan bersemangat di pagi hari. Dan, tidak ada yang terlambat lagi dalam pertemuan pengetahuan ini.” ucap Pohon besar menjelaskan.

“Ya, ya! Kami setujuuu!” jawab semua penghuni padang rumput.

“Ya, aku setuju!” jawab Kuro dengan semangat.

“Ya, ya, asyik!” ucap Kliwon bergoyang-goyang bersama rerumputan.

“Sebentar, Kliwon,” ucap Burung hantu.

“Ya?” jawab Kliwon dengan penasaran.

“Aku lihat kau hanya tidur tidak lebih dari 2 jam sehari, benar?” tanya Burung hantu.

“Hmm, iya benar,” jawab Kliwon.

“Baiklah jika demikian, aku ingin meminta bantuanmu. Untuk mengawasi sekeliling padang rumput kita dari marabahaya.”

“Waktu tidur yang kau butuhkan sangat singkat dan kau memiliki leher yang sangat tinggi. Sehingga kau dapat lebih lama terjaga dan memandang jauh sekeliling, apakah kau mau membantu?” tanya Burung hantu.

“Ya, aku mau sekali. Aku merasa senang dapat membantu!” jawab Kliwon bersemangat.

“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih Kliwon,”

“Dan Kuro, janganlah kau tidur telentang, nanti kau susah terbangun,” pesan Burung hantu.

“Hehehe, iya Burung hantu,” jawab Kuro malu-malu.

“Baiklah kalau begitu, pertemuan ini telah selesai, semua boleh pulang,” ucap burung hantu mengakhiri pertemuan.

Akhirnya, semua binatang bergembira. Tak terkecuali Kuro, dia tak lagi takut kesiangan. Karena 4 Jalu akan membangunkannya. Begitu pula dengan para penghuni padag rumput yang lain. Semua merasa tenang. Karena Kliwon akan membantu mengawasi keamanan. Semua gembira, semua senang, semua saling saling melindungi. Mereka semua pulang dengan membawa pengetahuan dan senyuman manis di bibir mereka. Semuanya berjalan beriringan.

“Terima kasih 4 Jalu.”

“Terima kasih burung-burung merdu.”

“Terima kasih Kliwon,” ucap Kuro dan seluruh penghuni padang rumput bersahutan.

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s