Petualangan Si Jangkung Kliwon 1; Dongeng Sebelum Tidur

Pada suatu malam yang dingin, di sebuah padang rumput yang sangat luas, binatang-binatang tertidur dengan pulas, diselimuti batang rumput ilalang dan reruntuhan daun. Tapi, di antara para bintang yang telah terlelap, ada seekor Jerapah yang matanya belum terpejam, namanya Kliwon.

Kliwon duduk terdiam di bawah pohon yang sangat besar. Matanya terbuka lebar, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri dengan gelisah, dia belum mengantuk. Kliwon berjalan mendekati kakeknya yang sedang tidur. “Kek, bangun kek, aku tidak bisa tidur,” ucap Kliwon sambil membangunkan kakeknya.

“Hahhh… Kliwon, kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam,” jawab kakek Kliwon.

“Aku takut mimpi buruk kek, malam ini sepi sekali,” jawab Kliwon.

“Ah, kemarilah Kliwon,” ajak Kakek Kliwon dengan sabar.

“Kakek akan menceritakan sebuah kisah tentang nenek moyangmu yang terdahulu, biar nanti kamu dapat tidur nyenyak dan mimpi indah, mendekatlah kemari nak,” lanjut Kakek Kliwon.

Lalu Kliwon duduk manis dan bersiap mendengarkan cerita kakeknya.

Kakek Kliwon pun memulai ceritanya;

Pada jaman dahulu kala, ketika belum ada satupun Jerapah di muka bumi ini, para binatang dari langit dan bumi berkumpul menjadi satu. Mereka hidup bersama di sebuah padang rumput yang sangat luas dan indah. Pepohonan masih dapat saling bicara dan berjalan. Mereka semua saling berteman. 

 

Tersebutlah sepasang binatang yang menjadi pujaan para binatang lain. Pasangan binatang jantan dan betina yang tiada bandingannya, yaitu pasangan Macan Tutul jantan dari bumi dan Kuda Terbang betina dari langit. Mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan disukai semua mahluk baik di langit maupun di bumi. Sampai pada akhirnya mereka menikah dan dirayakan oleh semua penghuni langit dan bumi. Semuanya bergembira, para binatang bernyanyi riang, pepohonan menari senang, langit memunculkan warna-warni indah, angin bertiup tenang dan semilir.

Selang waktu berlalu, akhirnya mereka memiliki seorang putra. Putra dari perkawinan mereka adalah seekor binatang yang belum pernah ada sebelumnya. Bentuk tubuhnya menyerupai kuda, namun memiliki warna kulit yang menyerupai macan tutul. Binatang tersebut akhirnya dinamai dengan sebutan Zarafah.

Zarafah telah tumbuh besar, tapi dia sering terlihat murung. Dia berkeinginan untuk memiliki sayap seperti yang dimiliki oleh ibunya. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya terbang di udara, melihat keadaan seisi padang rumput dari atas. Dia juga ingin membantu teman-temannya yang berbadan lebih pendek untuk mengambil buah-buahan di atas pohon-pohon yang sangat tinggi. Pohon-pohon itu seringkali kesulitan untuk membungkuk ketika ingin memberikan buahnya kepada binatang yang suka makan buah. Karena itulah, Zarafah ingin sekali memiliki sayap.

“Ayah, kenapa aku tak memiliki sayap? Aku ingin terbang, berkeliling di udara dan membantu teman-temanku,” ujar Zarafah kepada Ayah Macan.

“Zarafah, kau memang terlahir tak memiliki sayap, tapi kau memiliki keistimewaan yang lain. Jangan mudah menyerah, berusahalah, suatu saat nanti kau akan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh hewan yang lain. Dan kau akan dapatkan keinginanmu,” nasihat Ayah Macan kepada Zarafah.

Nasihat Ayah Macan menjadikan semangat Zarafah berkobar. Dia memulai usahanya dengan berlatih setiap hari. Dia meregangkan tubuhnya ke atas, melompat-lompat, dan berjinjit. Dia melakukan hal tersebut dengan harapan bisa terbang. Zarafah melakukan latihan tersebut setiap hari, berhari-hari, bermusim-musim.

Sampai pada suatu hari, Zarafah terbangun dan dapat melihat padang rumput lebih jauh, lebih luar daripada yang sebelumnya. Dia baru sadar bahwa kini tubuhnya telah menjadi lebih tinggi. Lehernya menjulang ke atas, kakinya menjadi lebih panjang, tubuhnya kini luar biasa tinggi. Dan tubuhnya sangat kuat saat berdiri, seperti tidak ada dapat merobohkannya.

“Duhai Zarafah, tinggi sekali badanmu sekarang, kau pasti dapat mencapai buah-buahan yang ada di atas pucuk Pak Pohon, aku lapar sekali, aku ingin makan buah,” ucap Kancil meminta pertolongan kepada Zarafah.

“Baiklah Kancil, tenang saja, tunggu di sini,” jawab si Zarafah.

Tak lama kemudian Zarafah kembali dengan membawa banyak buah-buahan untuk si Kancil dan teman-temannya yang lain. Semuanya bergembira menyambut kedatangan Zarafah. Zarafah pun senang sekali dia dapat membantu teman-temannya, dan yang lebih membahagiakan bagi Zarafah dia dapat melihat lebih jauh lebih luas. Meskipun ia tidak dapat terbang, tetapi ia memiliki leher yang super panjang dan menjulang ke atas, sehingga pandangannya lebih jauh dan lebih luas.

Terlihat dari kejauhan Ayah Macan dan Ibu Kuda Terbang tersenyum.

Mendadak langit menjadi hitam, dan udara menjadi sangat dingin…

“ZZZZZZZ….”

“Kliwon?” kakek Kliwon menghentikan cerita dan memanggil Kliwon.

Terlihat Kliwon telah tertidur, nyenyak sekali tidurnya. Cerita belum selesai disampaikan oleh kakek Kliwon, tapi Kliwon sudah lelap.

“Hmmh, sebaiknya kuhentikan ceritaku,” gumam kakek Kliwon dalam hati. “Tidurlah yang nyenyak Kliwon, jadilah kuat dan berani seperti moyangmu, Zarafah.”

Malam semakin larut, Kliwon dan kakeknya tidur berdampingan, berselimutkan dedaunan kering. Kliwon tertidur dengan senyuman di bibirnya. Malam ini Kliwon pasti mendapat mimpi indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s