Lagu Dan Anak

1417748_10151864335228182_1349042627_o

Tulisan ini dikerjakan sebagai pengantar diskusi Forum Pencipta Lagu Muda “Festiv’La #8”

Rabu, 18 Desember 2013

Kedai Kebun Forum, Jl. Tirtodipuran No. 3, Yogyakarta.

Lagu dan Anak

Yang menangis minta minum susu…

Yang menangis minta minum susu…[1]

Ketika saya masih kanak-kanak, Bapak saya seringkali memutar lagu milik Iwan Fals yang berjudul “Mata Dewa”. Saking seringnya diputar, lagu tersebut telah menjadi semacam kidung untuk saya dan kakak saya. Terlebih untuk kakak saya. Usia kami hanya berjarak satu setengah tahun. Sehingga saya tumbuh hampir bersamaan dengan kakak saya tanpa jurang ingatan yang cukup berarti.

Kakak saya adalah seorang yang di masa kecilnya bisa disebut sebagai anak yang sangat aktif. Dia sangat menggemari susu sepanjang masa kecilnya. Anehnya, ketika dia beranjak remaja, dia seperti sudah mblenger terhadap apa yang dinamakan susu. Dia sama sekali tidak doyan susu lagi hingga kini.

Di masa kecil itulah, di masa kakak saya sangat menggemari susu, Bapak saya sedang sangat gandrung mendengarkan rekaman milik Iwan Fals. Beberapa tumpuk kaset dikoleksinya, hampir lengkap. Dia memutarnya di tape dengan kencangnya. Bahkan, sewaktu beliau berhasil membeli mobil pertamanya, alunan musik Iwan Fals tak pernah lekang dari telinga kami.

Adalah lagu berjudul “Mata Dewa” yang begitu lekat dalam ingatan saya dan kakak saya. Seperti anak kecil pada umumnya, jika kakak saya terbangun dari tidur siang dan bapak atau ibu saya terlambat memberinya susu maka kak saya menangis sejadi-jadinya. Belum lagi jika satu botol susu sudah dihabiskannya, dengan mudahnya kakak saya menyodorkan botol susunya sambil enteng berkata, “Tambah!”.

Mungkin daripada jadi pikiran atau beban yang akhirnya kurang baik, Bapak saya malah suka meledeknya. Jika susu terlambat datang dan kakak saya menangis, bapak saya malah dengan lantangnya bernyanyi, “Yang menangis minta minum susu” dengan nada milik Iwan Fals. Begitu seterusnya. Sehingga semua tetangga kami pun tahu soal lagu ini dan tak jarang turut menyanyikannya jika kakak saya menangis.

Kami berdua harus dengan pasrah mengakui bahwa kami adalah generasi yang hidup tanpa lagu anak. Meskipun pada masa kami banyak hadir “artis cilik”, “penyanyi cilik”, dan pencipta lagu anak yang bisa dibilang sangat produktif. Lagu-lagu tersebut hanya kami nikmati jika kami menonton TV. Kami tak pernah sekalipun membeli kaset rekaman milik penyanyi cilik siapapun. Kami tahu lagu-lagu tersebut; menyenangkan, tapi telinga kami sudah lebih dulu penuh dengan nada-nada balada pop-rock milik Iwan Fals. Dan lagu-lagu tersebut bagi kami terasa jadi kurang mantep, begitulah kira-kira.

Setelah beranjak dewasa, kami berdua pun tidak lantas menjadi penggemar Iwan Fals garis keras. Bukan pula menjadi pemain musik yang hanya mau memainkan lagu-lagu Iwan Fals. Memang, kami berdua kemudian memainkan musik, tapi musik yang kami kemudian lebih kepada pilihan pribadi kami masing-masing.

Berkaca kepada pengalaman pribadi saya dan kakak saya, peran musik kemudian menjadi penting dalam pembentukan karakter anak secara psikologis. Keluarga dan faktor pendukung lainnya seharusnya turut berperan aktif dalam kerangka pertumbuhan anak sejak dini.

Jika harus saya bandingkan perkembangan lagu anak dahulu dan kini, maka saya harus katakan bahwa lagu anak kini dapat dibilang menyedihkan. Lebih dari itu, industri musik saat inilah akar dari persoalan tersebut sebenarnya.

Saya tidak kemudian akan mendewakan Papa T. Bob, Ibu Sud, Ibu Kasur dan segenap jajaran pencipta lagu anak yang mulia ini. Tapi, setelah mereka tiada rasanya kita kemudian menjadi lemah dan tak bisa berbuat apa-apa, dan hanya bicara soal lagu yang absen dalam ruang-ruang keluarga. Kritik dan protes seperti tidak mendapat saluran yang sepadan, hanya berakhir pada obrolan dan gerutu saja.

Menonton televisi saat ini, tidak sedikit ajang-ajang yang dibuat untuk anak-anak. Ajang menyanyi, model, ustadz, dan banyak lagi. Tapi perlakuan terhadap anak kini dan dahulu terasa sangat berbeda. Jika dahulu, ada niat mulia dibalik komodifikasi anak, sedangkan kini ada komodifikasi di balik terciptanya segala acara tentang anak. Contoh dapat kita lihat, di berbagai ajang menyanyi untuk anak. Betapa kejuaraan itu dibuat dengan prematur. Ada ajangnya, tapi karya yang terkait lagu anak hanya itu-itu saja. Reproduksi lagu anak yang sudah lama dan usang. Jika lagu tersebut habis, maka muncullah anak-anak yang menyanyikan lagu-lagu milik remaja sedih ditinggal kekasih, atau jejaka ngenes kebelet kawin.

Hal itulah yang menjadi sangat disayangkan. Kemana para pencipta lagu anak? Kemana para dewasa yang masih memiliki imajinasi sekaya anak-anak? Apa mereka sudah habis diboyong gelombang kerja dan industrialisasi?

Kiranya diskusi ini akan dapat menempatkan bagaimana pelaku seni musik menghadapi situasi yang terhampar sekarang ini. Bagaimana juga diskusi ini kemudian melihat pentingnya lagu anak, baik bagi pelaku seni musik maupun bukan. Karena meskipun saya dan kakak saya tumbuh tanpa lagu anak yang tertib, tapi Bapak saya melakukan apa yang harus dilakukan untuk merawat kekanak-kanakan kami. Walaupun melalui lagu “Mata Dewa”.

Senja di Hati

Seperti mata dewaaa….

Irfan R. Darajat

Menulis dongeng dan puisi anak di:

https://irdarajat.wordpress.com/category/dongeng-dan-puisi-anak/

Mengerjakan lagu anak berjudul “Pistol Gajah”. Dapat disimak di:

https://soundcloud.com/irfan-r-darajat/pistol-gajah


[1] Potongan lirik lagu dari Iwan Fals yang berjudul “Mata Dewa”. Lirik tersebut aslinya berbunyi; “Yang menangis tinggalkan diriku, yang menangis lupakanlah aku”. Oleh Bapak saya lirik tersebut kemudian diplesetkan menjadi lirik yang berbunyi seperti bagaimana yang disebutkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s