Zoo “Prasasti”; Menjelajah Berbagai Peradaban

IMG_0942x

Catatan ini pertama kali dimuat di majalah musik online earmagazine.com

Pada tanggal 12, bulan 12, tahun 2012, sebuah kelompok musik eksperimental dari Yogyakarta menelurkan satu bukti kreatifitasnya dalam menjelajah berbagai peradaban.

Adalah Zoo, sebuah kelompok musik yang tidak biasa, baik dalam pengerjaan musiknya, pengemasan albumnya, maupun pola penyebarluasan album musiknya. Ini bukan pertama kali Zoo mengeluarkan album musiknya. Diawali dengan mini album “Kebun Binatang”, disusul dengan album penuh perdananya yang bertajuk “Trilogi Peradaban”, kini Zoo menelurkan album keduanya yang diberi nama “Prasasti”.[1] Album  yang mencengangkan. Berikut satu per satu unsur-unsur yang membuat album “Prasasti” milik Zoo ini menjadi luar biasa.

Kemasan; “Judge The Books From It’s Cover”

Jika kita simak koleksi CD di rak kamar kita atau di rak toko kaset dan CD, berapa banyak CD yang dikemas menggunakan wadah plastik dan bersampul kertas licin nan mengkilap? Tentu banyak. Atau yang sekadar membungkusnya dengan kertas berjenis Ivory yang dicetak menggunakan cetakan digital dengan desain yang menarik dari segi pelipatannya dan gambar-gambar menawan di sampulnya? Tentu banyak. Tapi, coba cari dan cermati, kemasan CD yang terbuat dari batu Granit seberat 1.7 kilogram, dengan nama band dan judul album terpatri dalam plat baja. Tentu itu adalah album bertajuk “Prasasti” milik Zoo.

Prasasti dapat diartikan sebagai piagam atau dokumen yang dituliskan pada bahan yang keras dan tahan lama (batu, tembaga, baja, dll).[2] Prasasti, secara lepas dapat diartikan sebagai bukti penting, dokumen yang dapat memberikan gambaran atas suatu peristiwa atau kejadian pada masanya. Hal ini menjadi penting untuk dipahami sebagai landasan melihat dan menyentuh kemasan yang tak biasa dari album musik milik Zoo.

Disertakan juga satu lembar kertas daur ulang berisikan lirik lagu dan kredit album yang di cetak dengan teknik cetak saring. Lebih dari itu, lirik dituliskan dengan aksara yang bernama “Zugrafi”. Sebuah aksara yang diciptakan khusus oleh Rully Shabara Herman, sang Vokalis, sebuah lekak-lekuk aksara baru yang belum pernah kita jumpai, sebuah kreasi yang tidak pernah diperkirakan akan dilakukan oleh kelompok musik manapun.

Kemasan yang dihadirkan ini membuat keunikan dan kekhasan secara menyeluruh, tidak hanya unik pada kemasan dan sampul saja. Tetapi unik dalam penyajian naskah penjelas album seperti lirik lagu dan kredit album. Secara fisik, naskah yang terdapat di dalam album memberi kesan bahwa kita sedang menerima naskah berumur ribuan tahun, ditambah lagi dengan aksara yang dikreasikan oleh Rully yang semakin menguatkan konsepPrasasti secara keseluruhan.

Secara kemasan, album ini pengerjaannya dilakukan dengan konsep yang matang, terlihat melalui hasil akhir kemasan fisik album ini: Total. Menyeluruh dan berkelindan. Tentu kita tidak akan banyak bertanya lagi persoalan kemasan yang terbuat dari batu dan bernaskah kertas daur ulang, serta penulisan lirik yang menggunakan aksara tersendiri ini. Kita cukup melihat judul albumnya; “Prasasti” dan semua elemen fisik yang menyusun album ini akan menjelaskan semuanya.

Kemasan fisik ini dibuat terbatas; hanya tersedia bagi orang yang berniat mengkoleksi dan memiliki kesempatan. Bagi yang tidak memiliki kesempatan Zoo telah menyediakan tautan unduh gratis. Tetapi tidaklah lengkap untuk mendengarkan album ini tanpa memiliki kemasan fisiknya; paling tidak menyentuhnya. Karena kemasan fisik dan isi dari album ini merupakan satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan. Masing-masing memiliki pernyataannya.

Musik – Mendengarkan Penjelajahan ke Berbagai Peradaban

Album ini berisi 22 lagu. Track 1-11 berisikan lagu yang direkam dengan konsep komposisi dan track 12-22 direkam dengan konsep improvisasi.

Dibuka dengan track berjudul “Kedo-Kedo” yang liriknya berasal dari bahasa daerah Bugis, yang dinyanyikan lebih seperti mantra yang dirapalkan. Selanjutnya pendengaran kita akan sedikit dimanjakan dengan lagu berjudul “Manusia Baru” yang mengalun lembut dan dentuman ritmis lalu diakhiri dengan sedikit chaos beberapa saat menjelang akhir lagu. “Plaba Umak” adalah track selanjutnya yang bernada lebih cepat dan bangunan suasana yang lagi-lagi chaos melalui sound noise yang dilahirkan oleh instrumen bass yang dimainkan olehBakti. “Pesta Memohon Hujan” mencakup semua formula musik yang bertempo pelan-cepat. “Pemuja Hari” merupakan lagu selanjutnya, lagu ini bisa disebut pengatur tempo dalam deret lagu yang disusun pada album ini. Tempo dan suasana yang dibangun lagu ini mampu meredam “kekacauan” dalam lagu-lagu sebelumnya. Disambung dengan “Pada Gunung”, yang meskipun lagunya berdurasi pendek, tetapi kita tak dapat mengatakan lagu ini hanya numpang lewat pada album ini. Lalu “Kita Ini”, unsur modern nampak ketara pada lagu ini, bukan berarti tak nampak pada lagu sebelumnya, tetapi secara gampang kita akan mendeteksi unsur-unsur modern pada lagu ini. “Tanah Ibu” adalah track selanjutnya, tidak ada nuansa romantis, patriotis, klise yang dibangun dari suasana yang dibangun dalam lagu berlirik bahasa Kawi ini. Nuansa gelisah, waspada mencekam, namun penuh perenungan dihadirkan melalui padu-padan drum, bass, dan bedug, ditambah lagi suara dari synth yang dihasilkan benar-benar mencekat. Selanjutnya adalah “”Demi Kekal” yang perlahan-lahan mengalun. Disambung dengan “Natonto” yang kembali mengajak kita sedikit ngebut, dan terakhir dalam track berkonsep komposisi ini adalah “Hymne Peradaban”, satu kata yang dapat mewakili lagu ini dari awal : porak poranda. Di akhir lagu, nuansa berubah seperti kita sedang pulang kalah perang dan tentara kita mati semua.

Secara keseluruhan lagu-lagu yang terdapat pada deret lagu yang berkonsep komposisi ini sulit ditebak, progresif, dan penuh kejutan. Kita seperti dibawa berkeliling menyaksikan museum peradaban manusia, yang meskipun didampingi pemandu dalam berkeliling kita tetap saja masih kaget dengan kejutan-kejutan yang kita temui. Selanjutnya, memasuki track berkonsep improvisasi. Spontan, tak terdugaKarena meskipun track ini berisi lagu-lagu yang spontan direkam dan menitik beratkan kepada eksperimen, lagu-lagu dalam track ini memiliki kesinambungan yang tetap dapat membangun suasana dan perasaan. Pengalaman bermusik, kematangan konsep, dan keterikatan emosi menjadi hal yang penting dalam konsep ini. Memasuki lagu demi lagu pada deret susunan track ini seperti dibiarkan berpetualang ke alam peradaban entah diamana, antah berantah. Kita bakal merasa sedang berada di tempat dimana kita dapat menjumpai binatang-binatang purba, entahlah, tapi saya membayangkan bertemu hewan Masthodon pada saat itu. Liar dan mengejutkan. Meskipun kita dapat sesuka hati memutar track yang mana yang mau kita dengarkan, tetapi disarankan mengikuti alur yang disusunkan dalam penyusunan deret lagu dalam album ini. Pekerjaan menyusun deret lagu pada sebuah album tentu bukanlah satu hal yang mudah. Dan Zoo melakukan penyusunan deret lagu dalam album ini dengan sangat baik.

Mencetak Sejarah

Musik yang dihadirkan dalam album ini terkesan lebih kuat secara karakter dan lebih meneguhkan kekhasan Zoo, jika dibandingkan dengan album sebelumnya. Nuansa etnik yang terlanjur disematkan cenderung ingin dihindari oleh Zoo sendiri. Dalam album ini Zoo lebih memilih merumuskan sendiri formulanya dalam bermusik ketimbang mereproduksi bebunyian tradisi atau etnik. Karena itu cap band etnik tidak pas rasanya untuk disematkan pada Zoo.

Zoo melakukan ekplorasi yang lebih jauh daripada itu.  Zoo—melalui segala aspek yang membangun musiknya—melakukan eksplorasi dan eksperimen yang mendalam atas suatu tema. Bahasa daerah yang digunakan dalam menyusun lirik (bahasa Aceh, Bugis, Palembang, Dayak, Lombok, Kawi, Sulawesi Tengah, Banjar, dan Minang) menjadi instrumen penguat yang tidak pernah dipikirkan atau dilakukan oleh kelompok musik lain. Meskipun mungkin kita tidak mengerti apa yang diungkapkan oleh Rully melalui bahasa berbagai macam daerahnya, akan tetapi hal itu tidak akan mengurangi nikmat dalam mendengarkan album ini. Ketidaktahuan akan bahasa daerah yang digunakan Rully membuat kita menemukan sisi lain untuk dinikmati. Yaitu, bunyi vokal yang dihasilkan oleh kata-kata yang berasal dari bahasa daerah tersebut. Rasanya lebih magis. Tentunya kita harus pahami vokal—suara yang keluar dari mulut—adalah merupakan salah satu instrumen. Sama seperti bass, drum, dan bedug. Bebunyian vokal yang dihasilkan dengan menggunakan bahasa daerah yang masih terdengar asing bagi kita tentunya membuat hasil bunyi vokal menjadi lebih kaya. Dengan kata-kata yang ”baru” yang digunakan sebagai lirik tentunya akan membuat perbedaan dan kekayaan eksperimental jika dibandingkan dengan lirik bahasa yang biasa digunakan dalam penyusunan lirik.[3]

Pemilihan instrumen seperti bass, drum, bedug, synth, dan vokal khas milik Rully tidak menyiratkan bahwa Zoo sedang bekerja di wilayah musik etnik. Nada-nada dan sumber bunyi yang digunakan juga tidak mengarahkan pendengarnya ke arah musik etnik tertentu. Zoo mendokumentasikan sebuah peradaban melalui imaji dan pandangan mereka sendiri. Yang kemudian dokumentasi itu tercatat lengkap dalam sebuah “Prasasti”.  Dengan ini pula, kita tidak perlu menyebutkan deret kelompok musik hanya untuk mengarah influence Zoo, alih-alih mengidentikkan Zoo dengan band lain, kami lebih memilih untuk menikmati Zoo sebagai Zoo. Dan melalui “Prasasti”, Zoo tengah mencetak sejarah.  [Words by Irfan R. Darajat / Jalan Pulang]


[1] Album “Trilogi Peradaban” merupakan album penuh pertama yang dilahirkan oleh Zoo. Kemasan album ini pun unik, terbuat dari kayu, terukir nama band di kayu tersebut. Zoo membagi album tersebut menjadi 3 babak (karena inilah maka album ini diberi nama “Trilogi Peradaban”); Babak pertama “Neolithikum”; Babak kedua “Mesolithikum”; Babak ketiga “Palaeolithikum”.
[2] Diambil dari sumber Kamus Besar Bahasa Indonesia.
[3] Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah bahasa yang paling sering dijumpai pada penyusunan lirik lagu-lagu dari kelompok musik di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s