Catatan Kerinduan 8

images (6)

setelah kita berpisah, aku tak pernah dapat bertemu lagi denganmu. kucari dirimu di sepanjang jalan yang biasa kita lalui, di kedai-kedai tempat biasa kita minum kopi, di sekitar rumahmu yang kini selalu sepi, dan  di seluruh saluran televisi. tetap saja, kau tak dapat kutemukan.
aku pernah menghabiskan waktuku seharian hanya untuk menunggu kedatanganmu. di tengah hujan deras berdekap angin dan gemuruh, kunanti dirimu; siapa tahu kau terbawa masuk ke dalam kamarku melaui rembesan air hujan di sela-sela genting kamarku yang lapuk. atau di setiap deru suara kendaraan bermotor yang melaju dengan kencang; siapa tahu itu adalah kau yang sedang bergumam. pernah juga kuputar sekencang-kencangnya lagu kesukaan kita berdua; siapa tahu ada suaramu yang memanggil namaku di jeda antara suara penyanyi lagu itu. atau diantara film-film drama dan horor yang kutonton; siapa tahu ada jeritanmu atau isak tangismu. namun semuanya tetap saja, luput.

“adakah yang yang tersisa dari jumpa yang sementara; dari perpisahan yang selamanya?”

suatu pagi, entah bagaimana caranya seorang tukang pos datang ke rumahku, membangunkan tidurku, dan memberitahukan kepadaku. bahwa kau kini bersemayam pada bakal pohon beringin kecil di depan pintu garasi rumahku. tak ada surat yang ia bawa untukku; dia hanya menyampaikan kabar itu lalu pergi. dan entah bagaimana caranya, memang benar ada sebuah bakal pohon beringin kecil yang mulai tumbuh, yang pada pagi sebelumnya tak ada. batangnya meliuk persis lekuk rambutmu, akarnya menjalar masuk ke dalam rumah.
aku tak pernah menyapa pohon itu, tak pernah juga kuperlakukan dia layaknya aku memperlakukanmu. tapi entah bagaimana caranya, pohon itu tumbuh seiring aku memejamkan mata di malam hari; tumbuh terus menerus sepanjang pencarianku atas dirimu. akarnya semakin merasuk kedalam tegel rumahku, saat namamu kurapalkan di sela-sela doaku yang gagap. pohon itu terus menerus tumbuh.

“tiada yang lebih melelahkan dan menggetarkan selain menempuh rindumu.”

sampai pada saatnya, aku terbangun di pagi hari dan tak kutemui pohon itu lagi. tercerabut tuntas dengan seluruh akarnya. kupikir kau telah terbuang oleh para pemuda yang sedang kerja bakti. atau diambil oleh kolektor tanaman hias yang iseng. atau pohon itu memang meniatkan pergi begitu saja.
dan semenjak itu, tak bisa lagi kulalui jalan-jalan yang biasa kita lewati, tak pernah bisa lagi kusinggahi kedai-kedai tempat biasa kita minum kopi, dan tak bisa lagi kuketahui apakah sekitaran rumahmu itu ramai atau sepi.
dan hari ini tak ada siaran televisi, lagu-lagu yang biasa kita dengarkan terhenti; pemain musik dan para penyayi mogok bermain, film-film drama dan horor berhenti produksi, semua kendaraan bermotor hanya berdenyit. lalu kudengar langkahmu perlahan-lahan meninggalkan mimpi dalam tidur malamku.

“apakah aku yang terlalu mudah merindukanmu, ataukah kau yang begitu jauh untuk kurengkuh?”

1 thought on “Catatan Kerinduan 8”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s