Warung Burjo dan Bahasa Indonesia


Saya pernah bertanya kepada diri saya sendiri, di manakah ruang yang dapat memposisikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan selain di forum-forum formal? Forum-forum formal seperti seminar, rapat, diskusi, dan ruang kelas memang terus menghidupkan bahasa Indonesia. Meskipun pesertanya berasal dari daerah yang sama, dan bukan tidak mungkin penggunaan bahasa daerah tetap akan dapat diterima dan dimengerti, akan tetapi penggunaan bahasa Indonesia tetap dilakukan. Namun, hal ini saya rasakan hanya untuk sekadar mematuhi aturan yang berlaku. Sampai pada suatu saat saya singgah ke Warung Burjo.
Warung Burjo adalah sebuah warung makan yang buka selama 24 jam setiap harinya. Sebagai tempat makan Warung Burjo memiliki kekhasan tersendiri, dari makanan yang tersedia, daerah asal pemilik warung, dan penamaan warung itu sendiri. Warung Burjo menyediakan makanan khasnya yaitu bubur kacang hijau. Selain itu, warung tersebut menyediakan berbagai makanan cepat saji seperti mie instan, nasi telur, nasi sarden, dan nasi ayam. Karena menu bubur kacang hijau yang diandalkan sebagai menu khas, maka warung tersebut seringkali disebut sebagai “Warung Burjo” atau “Burjo” sebagai kependekan dari bubur kacang hijau. Kebanyakan pemilik dan pekerja warung ini berasal dari daerah tanah Sunda, Jawa Barat, lebih tepatnya daerah Kuningan.
Sebagai mahasiswa rantau di Yogyakarta, saya merasa sangat akrab dengan warung makan ini. Burjo adalah muara dari semua kebingungan memilih menu makanan yang beraneka ragam di Yogya, sekaligus sebagai tempat “nongkrong” dan berbicara tentang apa saja. Pelanggan warung ini berasal dari berbagai macam daerah, karena saya mengambil latar tempat di Yogya yang memang sudah dipenuhi bermacam pendatang dari segala penjuru Indonesia. Atas dasar itulah, lahir hal-hal menarik yang terjadi di dalam Burjo, terutama soal bekerjanya bahasa di dalam Burjo.
Memasuki Warung Burjo seperti memasuki tanah Sunda, penjual dan pemiliknya lebih sering menggunakan bahasa ibunya, bahasa Sunda dalam melakukan percakapan. Belum lagi, pendatang yang sama-sama berasal dari tanah Sunda yang datang ke burjo akan langsung serta-merta menggunakan bahasa asalnya untuk melakukan percakapan.
Burjo memegang dua peranan penting, yang pertama sebagai duta untuk menyebarkan dan memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Sunda. Dengan kata lain burjo dapat menjadi ruang pertukaran bahasa dan kebudayaan dari daerah lain. Kedua, Burjo berfungsi sebagai ruang yang alami untuk menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.
Pertama, untuk menjelaskan fungsi Burjo sebagai ruang pertukaran bahasa dan kebudayaan, saya mengambil contoh penggunaan kata sapaan “Aa“. Sapaan ini akan terdengar dari hampir seluruh pembeli, entah dari manapun asalnya. “Aa” adalah sebutan dari daerah Sunda untuk seorang lelaki, sama halnya dengan sapaan “Mas“, dan “Abang” yang berarti kakak, digunakan sebagai kata ganti untuk menghormati orang yang lebih tua, atau orang yang tidak kita ketahui namanya, atau sering juga disematkan kepada penjual yang berjenis kelamin laki-laki.
Diperlukan kebiasaan bagi orang yang berasal dari daerah Jawa untuk melafalkan penyebutan ini, karena mereka sebelumnya telah memiliki sebutan tersendiri yaitu “Mas“. Namun, penjual Burjo seringkali kurang tanggap dalam menghadapi panggilan ini. Pembeli seringkali mengalami kekesalan karena penjual burjo yang dipanggilnya dengan sapaan “Mas” tidak kunjung menoleh dan menanggapi pesanannya. Berbeda halnya jika dipanggil dengan sapaan lengkap dengan pesananya; “A, nastel satu!”, pasti dengan tanggap penjual akan langsung menanggapi. Hal ini, menciptakan kesadaran alami bagi para pembeli untuk menggunakan kata sapaan sesuai dengan daerah asal penjual Burjo. Sehingga membuat kebanyakan pembeli, entah dari manapun asalnya sepakat menyapa penjual burjo dengan kata sapaan “Aa“. Namun, tidak semua pembeli bersepakat atas hal itu. Beberapa pembeli ngototuntuk tetap menggunakan bahasa daerahnya. Beberapa pembeli yang berasal dari daerah Yogya dan telah akrab dengan penjual burjo kadang-kadang malah menggunakan bahasa Jawa (Yogya) dalam berkomunikasi. Kata sapaan yang digunakan pun memiliki khas tersendiri yaitu “Dab” atau “Mas“. Dalam hal ini, penjual burjo dengan penuh keikhlasan pun mengikuti dan belajar penggunaan kata dari bahasa yang mungkin baru dikenalnya. Sehingga kini banyak ditemui penjual burjo yang juga mahir menggunakan kata sapaan yang berasal dari Jawa.
Kedua, Burjo berfungsi sebagai ruang yang alami untuk menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Saya ambil contoh pada satu kata yaitu “Atos“. Dalam bahasa Sunda kata ini berarti sudah, akan tetapi dalam bahasa Jawa berarti keras. Jika penjual burjo tetap ngotot melayani pembelinya yang berasal dari daerah Jawa yang telah selesai makan dengan bahasa Sunda, maka akan terjadi kesalahpahaman makna yang diterima. Dalam hal inilah, penjual burjo dan pembeli saling mengalahkan ego dalam dirinya dan akhirnya memilih jalan tengah dengan menggunakan bahasa Indonesia. Selanjutnya, pada penyebutan buah Pisang yang sering dijual di Burjo. Jika menggunakan bahasa daerah masing-masing (Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda), maka kembali akan terjadi kesalahpahaman disini. Dalam bahasa Jawa, Pisang disebut “Gedang”, sedangkan “Gedang” dalam bahasa Sunda berarti Pepaya, maka dari itulah penyebutan Pisang sebagai bahasa Indonesia dipilih untuk digunakan.
Pada titik inilah bahasa Indonesia digunakan sebagai bentuk perdamaian antara pembeli dan penjual; sebagai mekanisme alami yang bekerja tanpa paksaan di dalam ruang-ruang kehidupan manusia, agar pesan yang dikirim oleh pengirim pesan dan penerima memiliki kesamaan makna.
Nah, sekarang sudah waktunya saya membayar makanan yang saya pesan di “Burjo. “A, tos a.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s