20 Januari 2012

aku ingin menuliskan sebuah puisi untukmu. tapi sayang, aku belum juga dapat memutuskan kata apa yang akan kutuliskan kepadamu. malam hampir habis, bulan berselimut mendung. aku belum juga dapat menemukan selarik kalimat untuk kukirimkan padamu. satu kata pun bahkan enggan lahir. jemariku beku.
kau kah itu yang sedang kupikirkan? 
wajahmukah yang berkelebatan dalam angan?
aku tak menyalahkan keadaan ini. kebingungan yang membuat bibirku mati kutu dan keraguan yang membuat langkahku gagu. pagi masih bayi, subuh belum tumbuh, dan matahari masih merias diri. risau dalam dada terus bercerau.
kau kah itu yang masih kupikirkan?
senyummukah yang tergenang dalam kenangan?
aku merasa bersalah kepadamu sore ini. karena telah kucuri beri-ribu pandangan denganmu, diam-diam kupotret wajahmu dalam ingatanku, dan kuketahui namamu tanpa ijinmu. aku berharap kau tak kehilangan sedikitpun atas segala yang kucuri darimu, karena sesungguhnya telah kau bawa seluruh perhatianku. mungkin karena hal inilah aku jadi tak bisa menuliskan satu kata untuk kukirimkan kepadamu. mungkin karena dirimu masih terlalu samar bagiku, sehingga kau masih muncul sebagai bulir-bulir tanya. lahir sebagai lindap geriap kata yang tak terucap.
kaulah yang masih kupikirkan
senyum di wajahmulah yang tetap tergelenang dalam lamunan.

1 thought on “20 Januari 2012”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s